Sabtu, 02 Mei 2020

Selamat Rahmah, Kamu Lulus! (Refleksi Hardiknas)




Pagi itu, langkah Rahmah terasa berbeda. Ayunan kakinya terasa begitu ringan untuk berjalan menuju sebuah tempat yang tak jauh dari rumahnya. Senyumnya terlihat mengembang, seakan ingin mengabarkan kepada dunia bahwa hari itu ia sedang bahagia.

Hari itu adalah hari yang teramat istimewa bagi Rahmah. Tak lupa ia ajak serta neneknya. Dengan baju berwarna hitam berpadu hijau, serta toga yang terpasang di kepalanya, dia akan diwisuda. Sungguh kebahagiaan yang  belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Bagi sebagian orang, mungkin ini terlihat biasa. Tapi bagi Rahmah, ini bukan sekadar seremonial belaka. Bagaimana tidak, lulus MTs di usia delapan belas tahun tentu bukan pencapaian yang biasa. Ada banyak cerita dan perjuangan yang menyertainya.

Usia delapan belas tahun normalnya adalah usia lulus SMA. Itu artinya, Rahmah pernah beberapa tahun berhenti sekolah. Setelah lulus SD, ia terpaksa memendam impiannya demi membantu orangtuanya bekerja. Ia dan keluarganya tinggal di sebuah dusun kecil di Desa Engkrengas, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu. Orangtuanya bekerja sebagai nelayan, yang saat bekerja kadang harus meninggalkan rumah sampai berpekan-pekan. Rahmah bukanlah anak satu-satunya. Ada beberapa anak lain yang juga memiliki nasib sama.

Hingga suatu saat, jalan Rahmah untuk meraih mimipinya kembali terbuka. Tahun 2017 lalu, ada seorang yang melihat potensi Rahmah. Ia adalah relawan dari Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan, yang sedang ditugaskan untuk menginisiasi sekolah di desa itu. Barangkali ini adalah jawaban dari doa-doa Rahmah. Singkat cerita, relawan tersebut berhasil meyakinkan Rahmah dan orangtuanya. Rahmah pun akhirnya sekolah lagi.

MTs At Taqwa Filial adalah tempat Rahmah belajar, sebuah sekolah kelas jauh yang ada di desa Engkrengas, yang menjadi dampingan dari Program Sekolah Literasi Indonesia. Sekolah induknya berada di kecamatan Selimbau. Untuk bisa ke kecamatan, harus menyusuri anak Sungai Kapuas. Perlu setengah jam perjalanan menggunakan speed boat untuk bisa sampai ke sana. Jika air sungai sedang surut, maka perjalanan harus ditempuh melalui jalan setapak yang membelah perbukitan.

Sekolah ini belum lama berdiri. Rahmah dan sebelas temannya adalah lulusan ketiga. Jumlah siswanya pun tak banyak, karena hanya berasal dari tiga dusun di sekitarnya. Tapi ada hal yang membuat mereka bangga, meski sekolah mereka hanya menumpang di gedung balai desa, ternyata sudah bisa meluluskan sampai angkatan ketiga.



Kisah Rahmah adalah gambaran kondisi pendidikan di pedalaman sana. Kita tinggalkan dulu bicara soal kualitas. Bisa menuntaskan belajar sampai sembilan tahun saja adalah sebuah pencapaian luar biasa. Karena faktanya, orangtua lebih memilih anaknya bisa membantu bekerja, daripada sekolah yang mereka sendiri juga belum terlalu tahu apa pentingnya. Di sana kita belum bicara revolusi industri 4.0. Ada guru saja, itu sudah luar biasa. Karena tidak semua orang bersedia menjadi guru di tempat terpencil seperti itu.

Rahmah hanyalah salah satu dari sekian banyak anak-anak di pedalaman sana yang tidak memiliki kemudahan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Namun, dibalik ketidakmudahan itu, kabar baiknya adalah anak-anak itu tak pernah berhenti bermimpi. Di tengah minimnya fasilitas pembelajaran yang ada, lembar-lembar harapan masih senantiasa terbuka setiap harinya. Kini Rahmah bersiap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, berharap kelak  cita-citanya menjadi seorang guru bisa tergapai.

Sudah selayaknya pendidikan mampu mengantarkan anak-anak untuk meraih mimpi. Karena pendidikan bukan sekadar deretan angka yang tersusun rapi.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 

@andiyahmad, 02 Mei 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar