Selasa, 19 November 2019

Kebaikan yang Menular



Akhir pekan kemarin saya mendapat kesempatan untuk membantu melakukan seleksi Duta Gemari Baca Batch 6 di Yogyakarta. Duta Gemari Baca adalah program pengembangan kapasitas dan pemberdayaan generasi muda penggiat literasi yang memiliki karakter tangguh dan kreatif dalam meningkatkan minat baca dan mengembangkan literasi masyarakat di daerahnya.

Pada tahapan seleksi kedua ini, seleksi yang dilakukan adalah wawancara dan FGD. Lebih dari dua puluh peserta yang mengikuti tahapan ini. Dua belas di antaranya, saya yang menyeleksi.

Selama proses seleksi, saya dibuat kagum berkali-kali. Khususnya saat saya menanyakan apa motivasi mereka mengikuti seleksi ini. Bagaimana tidak, anak-anak muda yang usianya masih cukup dini, ternyata memiliki semangat yang tinggi untuk mengabdi di masyarakat pada bidang literasi.

Usia mereka masih terbilang muda, namun sudah banyak aksi nyata yang dilakukan untuk masyarakat di sekitarnya. Mulai dari membuat taman baca, menyulap gerobak angkringan menjadi gerobak baca, hingga membuka lapak buku di jalanan pusat kota. Dan semua itu mereka lakukan dengan suka rela.

Ketakjuban saya tak berhenti di situ saja. Ada satu nama yang membuat saya bertanya-tanya. Nama yang awalnya masih cukup asing di telinga, sampai akhirnya terbiasa mendengarnya. Dia bukan dari salah satu peserta, tapi namanya sering disebut oleh peserta. 

Enam dari dua belas peserta yang saya wawancara, semua menyebut namanya. Ya, dia adalah orang yang mampu menginspirasi mereka. Dan dari inspirasi itulah akhirnya mereka terdorong untuk mendaftar sebagai Duta Gemari Baca.

Joana, itulah namanya. Anak muda penggiat literasi yang juga merupakan Duta Gemari Baca Angkatan 5. Selama ini, gadis dua puluh tahun itu aktif mengampanyekan budaya membaca melalui beragam praktik baik literasi di komunitas dan TBM nya. Berbagai prestasi juga pernah diraihnya, salah satunya adalah peserta terbaik dalam kegiatan Residensi Penggiat Literasi tahun 2019.

Joana telah mengajarkan kepada kita bahwa satu aksi nyata jauh lebih berdampak dari pada seribu kata-kata. Dan semangat itulah yang menjadi ruh perjuangan Duta Gemari Baca, bahwa literasi bukan sekadar narasi, tapi aksi.

@andiyahmad, 19 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar