Minggu, 25 Maret 2018

Revolusi Mental, Riwayatmu Kini


Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi hobi pemimpinnya ngutang sana-sini, hingga jumlahnya pun semakin menggunung tinggi, sampai-sampai tak tahu bagaimana cara untuk melunasi.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi subsidi untuk rakyat kecil dicabuti, dengan dalih untuk membangun negeri, meski hasilnya entah siapa yang lebih menikmati.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi terhadap kritik saja sangat antipati. Pengritik ditangkapi, media yang tak sejalan dibredeli, bahkan setiap gerak-gerik rakyatnya diawasi.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi pemimpinnya sukanya tendang batu sembunyi kaki. Mulai dari tidak tahu apa yang ditandatangani, sampai mengaku tidak tahu terhadap kegaduhan yang dibuat para menteri. Sungguh lebih drama ketimbang serial FTV.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi pemimpinnya tak bisa memegang kata-kata sendiri. Sewaktu jadi oposisi, saat BBM naik paling kuat mengritisi, tapi saat memimpin diam-diam harga BBM dinaikkan sampai beberapa kali.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi terhadap agama sangat alergi. Pengajian dicurigai, dituduh anti toleransi, hingga ulama pun dikriminalisasi. Tapi anehnya mencoba melirik zakat dan dana haji.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi pemerintahnya lebih suka impor ketimbang memanfaatkan produk dalam negeri. Dengan alasan kualitas belum mampu mengimbangi, kerja keras petani akhirnya tak dihargai.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi pemimpinnya susah untuk menepati janji. Janji meroketnya pertumbuhan ekonomi, rupiah menguat tinggi, BBM tak naik lagi, indosat kembali dibeli, banjir dan macet di ibukota teratasi, tidak bagi-bagi kursi, menyejahterakan petani, kran impor berhenti, usut kasus BLBI, dan masih banyak lagi. Semuanya tinggallah janji.

Di sebuah negeri mimpi, katanya mental ingin direvolusi, tapi pemimpinnya tidak bisa instrospeksi diri. Sudah jelas pencapaiannya tidaklah tinggi, harusnya sadar diri dan tak usah mencalonkan diri lagi. Tapi nyatanya, segala upaya dilakukan untuk menggiring opini agar rakyat bisa tertipu untuk kedua kali.

Ah, kalau sudah begini, rakyat kecil di negeri mimpi hanya bisa berdoa dalam hati, semoga 2019 pemimpin negeri mimpi berganti.
Jakarta, 25 Maret 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar