Kamis, 14 Desember 2017

Mahasiswa, Toa, dan Gejolak Asmara

Beberapa hari ini kabar tentang keromantisan seorang aktivis di UHO berseliweran di timeline FB. Sebagian memuji, sebagian lagi mencaci. Saya sih santai aja menanggapi. Anggap saja ini hiburan di tengah langkanya gas elpiji, maraknya persekusi, dan kurva panaik yang makin tinggi.
Saya menilai mahasiswa tersebut pasti bermental baja, karena berani mengungkapkan cinta menggunakan toa, di lapangan terbuka. Tak peduli setelah itu muka mau ditaruh di mana, yang penting terkenal seperti Abu Janda.
Dilihat dari aksinya, pasti mahasiswa tersebut seorang aktivis organisasi. Namun saya meragukan jika ia adalah aktivis pergerakan. Melihat gejolak asmara yang ia rasakan, dan cara ia mengungkapkan, dugaan saya mahasiswa tersebut tergabung dalam Perkumpulan Aktivis Kasmaran, disingkat PE 'AK.

Menanggapi kejadian tersebut, ada yang mengatakan bahwa hal itu tidaklah salah. Yang salah itu jika bawa megaphone sambil membawa panji bertuliskan kalimat ilahi, karena pasti akan dituduh anti NKRI, atau dilabeli radikal dan harus diperangi.
Dan toh juga megaphone kini telah beralih fungsi. Dulu megaphone dipakai untuk menyuarakan jeritan rakyat yang terdzolimi, kini sebagian aktivis menggunakannya untuk mencari sebungkus nasi. Dulu megaphone digunakan untuk melawan ketidakadilan, kini digunakan untuk membubarkan pengajian.
Meski ada yang menganggap tak masalah, menggunakan megaphone untuk urusan asmara tetap terasa kurang etis, setidaknya itu yang dirasakan oleh para mantan aktivis. Bagi saya, melihat megaphone disalahgunakan itu sakitnya melebihi sakitnya ditinggal nikah mantan. Apalagi cuma mantan kesekian.
Pesan saya untuk adik-adik mahasiswa perempuan, jangan mudah termakan gombalan. Laki-laki itu manis di bibir, memutar kata, malah kau tuduh akulah segala penyebabnya.
Jika sudah sama-sama suka, mending ajak saja ke KUA. Dipacarin tapi tidak dinikahin itu sakit dan merana. Sakitnya kayak kekalahan Milan di final Liga Champion 2005, sudah 12 tahun lukanya masih menganga 
Bagi laki-laki, semoga keberanian mengungkapkan perasaan bukan hanya untuk pacaran, tapi untuk ke jenjang pernikahan. Jangan sampai ke-gentle-an hilang ketika di depan calon mertua, seperti Setia Novanto yang layu pada sidang perdana, atau Abu Janda yang tak berkutik ketika di depan layar kaca.
Harapan terakhir, semoga kejadian ini tidak menginspirasi mahasiswa lain. Saya tidak bisa bayangkan jika ada mahasiswa yang ikut-ikutan dengan menggunakan toa masjid.
Ah. Sudah saatnya mahasiswa kembali pada peran dan tugasnya; agen perubahan, penerus perjuangan, pengontrol kebijakan, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas dan laporan, melakukan penelitian, ngejar bimbingan, ikut seminar dan kajian, ngisikan absensi teman, jalan-jalan dengan teman seangkatan, bayarin traktiran, lalu di akhir bulan cari pinjaman kiri kanan.
Ternyata banyak juga ya tugas mahasiswa  Hidup mahasiswa!

Andi Ahmadi
Alumni UHO yang pernah megang megaphone.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar