Sabtu, 12 Agustus 2017

Pengalaman Pertama Mendampingi Istri Melahirkan


Dalam empat minggu terakhir ini banyak teman saya yang menanyakan bagaimana kesan saya saat mendampingi istri saat melakukan persalinan. Sebagian dari mereka ada yang sekadar basa-basi, namun ada juga yang serius ingin mengetahui. Sebagai pembelajaran nantinya, begitu yang mereka bilang.

Atas dasar itulah, maka saya mencoba menuliskan sekelumit kisah saya saat mendampingi istri tercinta melahirkan.



Saya termasuk orang yang beruntung bisa berada di samping istri saat ia melahirkan. Kami cukup sering mengajak bayi kami berbincang saat ia masih dalam kandungan. Dan salah satu perbincangan kami adalah memintanya untuk memilih akhir pekan sebagai waktu lahir ke dunia, karena saat itulah saya libur kerja dan bisa mendampingi. Dan Alhamdulillah, bayi kami bisa diajak kerjasama.   

Sebenarnya saya adalah orang yang tidak bisa melihat orang yang sedang kesakitan, terlebih jika ada darah di sana. Namun untuk saat itu, saya tak lagi mempedulikan hal tersebut. Apapun yang terjadi, saya harus selalu berada di sisi sang istri.

Selama mendampingi proses persalinan itulah hati ini tak karuan, campur aduk rasanya. Ada sedih, was-was, panik, takut, pasrah, dan juga bahagia.

Sedih adalah ketika melihat istri kesakitan, meronta dan berteriak hampir tak terkendalikan, sementara tidak banyak hal yang bisa saya lakukan. Saat itu saya hanya bisa menggenggam erat tangannya, sembari membimbingnya untuk mengatur nafas agar tenaganya tetap terjaga.  

“Sabar Yang, sebentar lagi ini semua akan terlewati”.

“Kamu pasti kuat Yang, sebentar lagi kita akan bertemu dedek, anak kita”.

Kata-kata itu yang selalu kubisikkan ke telinganya. Saya tahu bahwa itu tidak akan mengurangi rasa sakitnya. Tapi setidaknya dengan itu ia tetap memiliki semangat untuk melewatinya.

Selain sedih, sebagai suami yang menyaksikan langsung proses persalinan tentu juga merasa takut dan was-was. Takut kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan di sinilah perasaan cinta kepada istri makin menguat. Sungguh, belum pernah saya merasakan gelombang cinta sedahsyat itu. Maka seandainya bisa, ingin rasanya rasa sakit itu dibagi berdua.

Rasa cinta yang maha dahsyat itulah yang barangkali membuat saya tidak rela dan membela ketika istri saya diomelin bidan karena suatu hal. Tak pelak akhirnya saya pun menjadi sasaran omel juga :D

Lalu apakah saya tidak merasa panik? Tentu saja iya. Namun saya berusaha agar kepanikan tersebut tidak terlihat oleh istri. Di sinilah dibutuhkan kontrol diri_juga kontrol muka. Karena bagaimana mungkin saya bisa membuatnya tenang jika saya sendiri panik. Alhamdulillah di poin ini saya lulus, meskipun di awal sempat tidak yakin akan bisa mengendalikan kepanikan atau tidak.

Di tengah campur-aduknya perasaan yang tak menentu, pasrah menjadi yang utama. Di situlah saya semakin yakin bahwa tidak ada daya dan upaya selain atas kehendak-Nya. Semua berjalan atas kuasa-Nya. Nyaris tak pernah berhenti hati ini berdoa, sembari terus membimbing istri untuk mengucapkan kalimat toyyibah.

Dan di antara semua perasaan yang bergemuruh itu, tentu ada juga perasaan bahagia. Bahagia itu amat terasa ketika melihat istri berhasil dengan selamat menuntaskan tugasnya, dan di saat bersamaan mendengar tangis bayi memecah ketegangan. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang mau didustakan?

Oh ya. Satu hal lagi yang tak bisa dilupakan. Benarlah kata orang bahwa istri akan terlihat bertambah cantik saat setelah melahirkan :)

Jakarta, 13 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar