Kamis, 17 Agustus 2017

Guru dan Kemerdekaan yang Tersandera


Masih ingat jeweran guru di telinga kita? Atau sabetan mistar plastik yang mendarat di betis kita? Hehe. Itu adalah bagian dari memori masa kecil kita dulu di sekolah. Dan itulah yang kadang menghiasi candaan kita saat bertemu dengan teman sekolah saat reunian. Apakah kita dendam dengan guru kita tersebut? Saya bisa menebak, jawabannya pasti tidak. 



Kini zamannya telah berubah. Dulu guru begitu disegani, namun kini tak lagi dihargai. Saat murid melakukan kesalahan, guru tak lagi berani memberi hukuman karena takut dipidanakan. Melanggar UU Perlindungan Anak katanya. 

UU inilah yang kini sering dijadikan senjata oleh sebagian orang tua untuk memproteksi anaknya dari hukuman gurunya. Murid pun jadi terlalu manja. Tentu masih hangat di telinga kita kabar tentang guru agama di Parepare yang dipidana karena mendisiplinkan muridnya yang tidak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Kasus ini semakin menambah panjang daftar kriminalisasi guru oleh orang tua murid di negeri ini. 

Kondisi di atas sangatlah berbeda dengan zaman dulu, dimana ketika guru menghukum muridnya karena tidak disiplin, orang tua akan menerimanya, bahkan bisa jadi akan ikut memarahi anaknya tersebut. Dulu orangtua begitu percaya kepada gurunya, karena tidak mungkin guru memberikan hukuman jika tidak ada kesalahan yang dilakukan. 

Guru kini dilema, antara melaksanakan tanggung jawab mendidik atau sekadar mengajar semata, karena sedikit saja salah langkah bisa berujung penjara. Akhirnya banyak guru yang tak lagi peduli dengan akhlak muridnya. Yang penting jam mengajarnya terlunasi, selesai perkara. Jika sudah demikian, apa yang kita harapkan dari pendidikan ini, sementara tujuan besar pendidikan adalah memanusiakan manusia. 

Bagi orangtua yang tak terima anaknya dihukum, barangkali beranggapan bahwa bukan zamannya lagi mendisiplinkan anak dengan hukuman. Atau menilai sebuah kesalahan itu hal yang wajar, seperti sebuah slogan detergen “kotor itu baik”, sehingga tak perlu ada hukuman, melainkan cukup dengan pendekatan. Dalam ilmu pendidikan istilah ini dikenal dengan disiplin positif. 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan konsep disiplin positif. Namun yang harus dipahami, itu hanyalah teori dari manusia, yang dalam penerapannya bisa saja tidak selalu sesuai dengan kondisi yang ada. 

Sebagai makhluk yang diciptakan berbeda, anak memiliki karakter yang berbeda pula, dimana cara penanganannya pun juga berbeda. Ada anak yang bisa dikendalikan cukup dengan pendekatan, ada juga yang memang perlu adanya hukuman. Yang perlu digarisbawahi, hukuman tidaklah sama dengan kekerasan. Maka, hukuman untuk mendisiplinkan tentu sah-sah saja, asalkan masih dalam batas kewajaran.

Dalam Islam, istilah seperti ini disebut ta’dib, yang diartikan sebagai proses mendidik yang difokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Mengacu pada hal tersebut, maka selain mengajar guru juga memiliki kewajiban untuk membentuk akhlak muridnya, termasuk meluruskan ketika muridnya melakukan kesalahan. 

Islam sangat tegas dalam hal pembentukan akhlak. Karena pada dasarnya akhlak lebih tinggi dibanding ilmu. Dalam hal sholat misalnya, Nabi Muhammad memerintahkan ummatnya untuk mengajari anaknya sholat sejak umur tujuh tahun. Dan ketika anaknya meninggalkan sholat padahal umurnya sudah sepuluh tahun, maka Nabi memerintahkan untuk memukulnya. Tentu sesuai dengan cara yang dianjurkannya pula. 

Meskipun demikian, dalam memberikan hukuman kepada murid hendaknya guru memerhatikan jenis kesalahan murid. Tidak semua kesalahan harus mendapat hukuman yang sama. Maka sangat penting bagi guru untuk mengetahui jenis kesalahan muridnya agar mudah dalam mengoreksinya.

Dalam buku Prophetic Parenting: Cara Nabi SAW Mendidik Anak, karangan Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dijelaskan bahwa kesalahan anak intinya bersandar pada tiga hal. Pertama, kesalahan dalam pemahaman, yaitu si anak tidak memiliki pemahaman yang benar tentang sesuatu, sehingga dia melakukan kesalahan pada hal tersebut. Kedua, kesalahan dalam aplikasi, yaitu si anak tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik karena belum terlatih. Ketiga, kesalahan terletak pada diri si anak sendiri yang sengaja melakukan kesalahan atau si anak termasuk yang memiliki jiwa pemberontak. 

Ketiga jenis kesalahan di atas tentu memiliki perbedaan dalam penanganannya. Untuk kesalahan pertama dan kedua masih relatif mudah ditangani. Sementara untuk kesalahan ketiga, diperlukan sebuah ketegasan agar timbul kesadaran dalam diri anak bahwa apa yang dilakukannya tidaklah baik. 

Meskipun hukuman dalam proses pendidikan dibolehkan, tetap diperlukan tahapan dan cara yang baik dalam pelaksanaannya. Dari segi tahapan, guru diharapkan memberi teguran dan nasihat yang baik terlebih dahulu. Jika hal tersebut tidak berhasil, berikan teguran yang disertai ancaman hukuman. Dan jika masih tidak berhasil, barulah boleh menghukumnya. 

Dalam memberi hukuman juga harus diperhatikan tata caranya. Hukuman hendaknya tidak membahayakan keselamatan anak. Jika hukumannya berupa pukulan, hendaknya tidak memukul terlalu keras yang bisa menyebabkan berbekas, tidak memukul organ vital, dan tidak menggunakan emosi/kemarahan saat memberikan hukuman. Dan hukuman seperti ini hanya boleh diberikan kepada anak yang usianya sepuluh tahun ke atas. 

Imam Ghazali pernah berkata, “Apabila anak-anak diabaikan sejak awal pertumbuhannya, biasanya akan dewasa dengan perangai buruk, pendusta, pendengki, pencuri, pengadu domba, suka ikut campur urusan orang, tertawanya terbahak-bahak, licik dan menggila. Semua itu hanya bisa dicegah dengan pola pelurusan perilaku yang baik.”

Apabila guru dan orangtua telah sama-sama memahami bahwa hukuman merupakan aspek penting dalam pendidikan anak, maka sangat diperlukan kerjasama yang baik antar keduanya. Sebagai orangtua, sudah seharusnya memberi kepercayaan kepada guru dalam mendidik anaknya. Jangan menyandera kemerdekaan guru dalam menjalankan tanggung jawabnya. Tanggung jawab guru amatlah berat, maka jangan sampai perilaku orangtua justru semakin menambah berat. 

Sebagai guru yang sudah mendapat kepercayaan dari orangtua murid, selayaknya memegang kepercayaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Didiklah anak murid seperti mendidik anak sendiri. Dengan demikian akan timbul kasih sayang yang mendalam dalam proses pendidikan, dan pendidikan pun akan mampu menemui tujuan. 

Dirgahayu Republik Indonesia.
Maju pendidikannya, jaya negaranya. 

Jakarta, 17 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar