Jumat, 23 Juni 2017

Hikmah Kehidupan: Belajar dari Seorang Driver





Benarlah kata orang bijak, bahwa belajar itu bisa dari mana saja, dan dari siapa saja. 


Dalam hidup ini, seringkali kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang. Salah satu pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran adalah pengalaman hidup Mas DN, seorang anak muda yang berprofesi sebagai driver di sebuah rental mobil di Kabupaten Bogor. Dari pengalaman hidupnya teruntai begitu banyak hikmah. Saya bersyukur bisa bertemu dengannya, meskipun hanya sekali ketika dia mengantarkan saya ke Jakarta beberapa hari yang lalu. 



Usia Mas DN saat ini masih terbilang muda. Lima tahun lalu, saat usianya masih 22 tahun, ia menikah dengan perempuan pilihannya yang usianya satu tahun di bawahnya. Dari sinilah cerita itu bermula. 


Seperti kebanyakan orang, di awal membangun rumah tangga Mas DN harus melaluinya dengan penuh perjuangan. Terlebih lagi saat buah hatinya lahir ke dunia. Saat itu yang ada di benaknya adalah bagaimana mendapatkan banyak uang untuk membahagiakan istri dan anaknya. Ia tak peduli meski tiap hari harus berangkat kerja jam 4 pagi dan baru pulang ketika malam mendekati puncaknya. Itulah bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. 


Seiring bergulirnya waktu keadaan ekonomi rumah tangga Mas DN perlahan mulai membaik. Ia mulai mendapatkan banyak bonus dari pekerjaannya. Hingga akhirnya mampu membeli rumah seharga 350 juta, juga sebuah mobil yang bisa dinikmati bersama keluarga. 


Kemajuan ekonomi yang didapat tersebut diyakini oleh Mas DN sebagai rizki yang Allah berikan untuk anaknya melalui dirinya, karena setiap anak yang terlahir di dunia telah ditetapkan oleh Allah takdirnya; ajal, jodoh, dan rizkinya.


Namun, saat ekonomi keluarga telah membaik, ujian yang lain pun datang menghampiri keluarga kecilnya. Terkadang uang memang bisa membuat hidup bahagia, namun tak selamanya kebahagiaan bisa ditentukan oleh uang. Hubungan Mas DN dan istrinya mulai merenggang dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam memaknai arti kebahagiaan. 


Dari perspektif Mas DN, kerja keras yang ia lakukan sejak dini hari hingga tengah malam adalah bentuk tanggung jawabnya untuk membahagiakan keluarga. Sementara istrinya memiliki perspektif berbeda, ia berharap memiliki waktu yang lebih panjang bersama keluarga. Dan karena tuntutan pekerjaan, Mas DN tak bisa memenuhinya. 


Puncaknya, akhirnya Mas DN dan istrinya-pun berpisah, saat usia anaknya menginjak 2 tahun. Tentu saja ia amat terpukul, terlebih lagi setelah ia tahu bahwa istrinya memilih orang lain yang dianggap bisa memberikan perhatian lebih kepadanya. 


Namun demikian, Mas DN tetap menunjukkan sikapnya sebagai ayah yang bertanggung jawab. Ia memberikan rumah dan mobilnya kepada istrinya, agar kelak bisa menjadi tabungan untuk biaya pendidikan anaknya.


Akhirnya Mas DN memulai kembali hidupnya dari nol, termasuk meninggalkan pekerjaan lamanya. Dan dari pengalaman hidupnya tersebut, kini ia terlihat lebih matang untuk menjalani hidup ke depan. Dan dari sorot matanya terlihat betapa sesungguhnya ia amat mencintai keluarganya. 


Dari obrolan singkat kami, ada pesan tersirat yang disampaikan Mas DN bahwa hadirnya buah hati akan membukakan pintu-pintu rizki. Setiap orangtua harus meyakini ini. Dan yang tak kalah penting, bahwa rizki tak melulu soal uang. Hidup bahagia bersama keluarga juga merupakan rizki yang harus disyukuri.

Adakalanya kebersamaan dengan keluarga jauh lebih penting ketimbang tumpukan uang.


Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini.


Bogor, 28 Ramadhan 1438 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar