Selasa, 02 Mei 2017

Literasi dan Jalan Terjal Pendidikan


Duduk bersila di tengah keramaian Kota Kasablanka.

Siang itu, dalam kerumunan para relawan di Festival Ikut Bekerja yang digagas Indonesia Mengajar, saya memperoleh selembar surat dari ujung Kepulauan Riau, Kabupaten Natuna. Adalah Maria Eva, seorang anak kelas 4 SD yang hobinya membaca, pengirim surat semangat tersebut.

Seorang anak kelas 4 SD yang bersekolah di pedalaman dengan fasilitas yang seadanya, memiliki hobi membaca dan mengunjungi perpustakaan. Tentu ini bukan hal yang biasa saja.


Barangkali kita sudah sering mendengar tentang beberapa survei lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kemampuan literasi yang rendah.  Sepertinya saya tidak perlu menyebutkan angka-angkanya.

Anggap saja angka-angka di survei itu benar adanya. Pertanyaan sederhananya adalah, sebegitu rendahnya kah kecakapan literasi anak-anak Indonesia? Oleh sebab apa itu semua bisa terjadi?

Jika kita searching di internet ataupun bertanya secara random, hampir bisa dipastikan sebagian besar akan mengatakan bahwa penyebabnya adalah minat baca yang rendah. Oke, itu jawaban yang sah-sah saja.

Tapi tak ada salahnya saya mencoba memberikan sedikit sudut pandang lain mengenai hal ini.

Maria Eva adalah salah satu dari kesekian banyak anak-anak di pedalaman negeri ini yang tidak memiliki kemudahan dalam mengakses buku. Saat saya bersama tim dari Dompet Dhuafa Pendidikan melakukan pendampingan di tiga puluhan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia, saya cukup tercengang ketika mendapati bahwa sebagian besar sekolah tidak memiliki perpustakaan.  Selain itu, ketersediaan buku bacaan juga masih bisa dihitung jari.  

Namun, di balik ketidakmudahan itu, kabar baiknya adalah bahwa aktivitas membaca di sekolah-sekolah tersebut tetap berjalan. Di tengah minimnya akses terhadap buku, lembar-lembar harapan masih senantiasa terbuka tiap harinya.

MI Syafa’atut Thulab di Ogan Ilir misalnya. Dikarenakan keterbatasan fasilitas, mereka memanfaatkan “keranjang ilmu”  yang berkeliling satu hari untuk tiap kelas demi memenuhi kebutuhan membaca siswa.

Lain lagi dengan MIS Istiqomah di Pulau Sebatik. Oleh sebab tidak adanya fasilitas ruang baca, setiap hari ada siswa yang bertugas mengeluarkan buku dari sebuah lemari demi aktivitas membaca. Dan ini mereka kerjakan setiap pagi sebelum guru datang, meskipun dengan jumlah buku seadanya.

Cerita di atas hanyalah dua dari puluhan cerita lain yang tidak cukup untuk dikisahkan semua. Ada banyak Maria Maria lain di luar sana yang teramat gemar membaca meskipun fasilitas seadanya. Lalu pertanyannya, apakah kemampuan literasi anak Indonesia rendah memang benar-benar karena kurangnya minat baca? Atau karena keterbatasan dalam mengakses bahan bacaan?

Kalaupun kita tetap bersepakat bahwa rendahnya kecakapan literasi karena minat baca yang rendah, kita juga harus berani mengakui bahwa ada alasan mendasar yang menyebabkan itu. Rendahnya minat baca bisa saja merupakan sebuah akibat dari sulitnya masayarakat dalam mengakses buku berkualitas.

Maka, jika ingin pendidikan benar-benar maju, negara harus mempermudah akses terhadap buku berkualitas. Karena negara dan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dan pendidikan tanpa kecerdasan literasi akan menemui jalan terjal. Tentu saja ini menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga negara.

Pemerintah harus secepatnya membuat sistim perbukuan yang baik dan tepat, sehingga masyarakat khususnya anak-anak sekolah di seluruh penjuru negeri bisa memperoleh dan memanfaatkan buku secara mudah dan tanpa diskriminasi. Ketika distribusi buku berkualitas bisa merata ke setiap daerah, maka bukan hanya kecakapan literasi siswa yang meningkat, namun juga bisa sedikit menutupi masalah pendidikan yang sampai saat ini belum juga terpecahkan, yakni distribusi guru berkualitas yang tidak merata.

Dan tentunya, tanggung jawab ini tidak bisa sepenuhnya kita serahkan kepada pemerintah saja. Memajukan pendidikan harus menjadi kerja bersama setiap warga negara. Maka setiap pihak hendaknya ikut terlibat dalam rangka menyediakan akses terhadap buku berkualitas.

Satu hal yang tak kalah penting dari itu semua, bahwa dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak dalam upaya mengembangkan gerakan literasi.  Tak cukup sekadar menyediakan buku, melainkan harus ada upaya serius dalam membumikan gerakan literasi di negeri ini. Sehingga cita-cita mewujudkan pendidikan berkualitas yang literate benar-benar bisa menjadi kenyataan di republik tercinta ini.


Bogor, 2 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar