Sabtu, 05 November 2016

Catatan 411


Bus mulai melaju menuju Ibukota Jakarta, ketika jarum di jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Ada sekitar enam puluh orang berada di dalam bus yang berangkat dari Parung tersebut. Beberapa orang terlihat tengah membaca Al Quran, sebagian lagi mendengarkan lagu penggugah semangat dari grup nasyid kenamaan di negeri ini. 

Aku keluarkan HP dari kantong celanaku. Setelah mengetik beberapa kata, lalu kukirim ke kontak favorit yang ada di HP-ku.

“Kamu sudah siap, Sya?”

“Iya Kak, aku sudah siap.” Balas istriku.


Ya, pagi itu aku dan istriku ikut rombongan ke Jakarta untuk mengikuti aksi damai 4 November. Kami berada dalam bus yang sama, hanya terpisah jarak beberapa meter saja. Aku duduk di bagian depan bersama dengan rombongan laki-laki, sementara istriku di bagian belakang bersama rombongan perempuan. 

Sebenarnya aku agak ragu mengajak istriku, karena saat itu kondisinya sedang kurang fit. Tapi semangatnya untuk terlibat dalam aksi damai tersebut telah mengalahkan rasa sakit yang dirasakannya. 

“Kesempatan seperti ini belum tentu terulang untuk kedua kalinya”, ucapnya meyakinkanku. 

***

Bus mulai membelah keramaian jalanan kota. Lantunan lagu perjuangan semakin membakar ghirah di relung dada. Ghirah yang tak terbeli dengan harta berapapun juga. 

Seketika pikiranku mengimajinasi, kelak apa yang kami lakukan hari ini akan menjadi cerita untuk anak-anak kami. Melalui kejadian ini setidaknya kami bisa mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana memegang teguh prinsip dalam beragama, sehingga tak mudah goyah oleh godaan, tak melemah oleh cemoohan, dan tak tergadai oleh keduniawian. 

”Di mana dicari pemuda kahfi, terasing demi kebenaran hakiki”. Suara lagu dari Izis tersebut membuyarkan lamunanku. 

Akupun teringat dengan kata-kata istriku saat kami diskusi beberapa waktu sebelum ikut aksi. “Kak, lebih baik kita terasing karena membela agama ketimbang dipuji manusia tapi dibenci oleh Allah, Sang Pemilik alam semesta”. Kalimat itulah yang membuatku semakin yakin bahwa kami tidak boleh berdiam diri melihat kitab suci kami direndahkan, kendatipun aku sadar bahwa ada kemungkinan akan menuai cibiran dari beberapa teman.  

Syair tersebut seakan mengingatkanku, bahwa tak perlu takut menjadi terasing karena memegang teguh prinsip. Tak masalah dianggap bersumbu pendek, karena yang sedang dibela adalah agama, bukan dunia. Dan sependek apapun sumbu, ia tak akan pernah menimbulkan ledakan jika tidak ada yang memulai memercikkan api padanya.

“Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah kurang lebih dua jam di perjalanan, rombongan kami pun sampai di tujuan. Di sepanjang mata memandang terlihat kerumunan manusia dengan atribut bertema putih, sama dengan atribut yang aku dan rombongan gunakan saat itu. Sesekali terdengar pekikan takbir dari sebagian kerumunan itu. Menggemuruh memenuhi langit ibukota.


Aku merasa seperti berada di tengah-tengah putihnya buih. Tapi bukan buih yang terombang-ambing oleh ombak seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW, melainkan buih berkekuatan besar yang siap menghancurkan kerasnya karang.  

Berada di tengah-tengah pusaran manusia, tentu saja aku dan istriku hanyalah titik yang teramat kecil. Dan barangkali keberadaan kami tidak memberikan efek secara langsung terhadap kekuatan masa. Tapi setidaknya keikutsertaan kami menjadi penanda kami berada di pihak mana. 

Tak perlu menunggu sempurna iman untuk membela kesucian Al-Quran. Sejujurnya, aku dan istriku belumlah menjadi muslim yang benar-benar taat. Kami juga belum sempurna dalam menjalankan syariat. Tapi justru karena itulah kami ingin terlibat. Berharap semoga kelak Al Quran bisa menolong kami di akhirat, ketika tidak ada sesuatupun selainnya yang bisa memberi syafa’at.

"Selamat datang di barisan para pejuang", gumamku pada diri sendiri.


Jakarta, 6 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar