Kamis, 30 Juni 2016

Ramadhan dan Euforia Sepakbola


Sepertihalnya Ramadhan dua tahun lalu, Ramadhan tahun ini juga diramaikan dengan kompetisi sepakbola antar negara. Jika di tahun 2014 adalah kompetisi antar negara di seluruh dunia, tahun ini adalah kompetisi antar negara yang ada di benua biru, dengan prediksi saya Italia yang akan berjaya.

Lalu, apa hubungan antara Ramadhan dan kompetisi sepakbola tersebut?


Bagi sebagian orang, barangkali adanya kompetisi ini bisa membantu untuk terbangun di sepertiga malam, kemudian ia sholat malam, lalu makan sahur sambil nonton pertandingan bola. Atau bisa jadi rutinitas makan sahurlah yang membantu bangun di sepertiga malam untuk menonton pertandingan bola. Ini tergantung persepsi, mana poin yang lebih utama.

Namun pada tulisan ini saya tidak akan membahas hal tersebut. Juga tidak akan menyinggung mengenai kondisi jamaah di masjid yang diibaratkan seperti layaknya kompetisi sepakbola. Saya hanya akan sedikit bercerita tentang sudut pandang lain dari kompetisi olahraga paling populer di dunia tersebut.

Euro adalah kompetisi sepakbola antar negara Eropa dengan siklus pelaksanaan empat tahun sekali. Jika ditambah dengan Piala Dunia_yang juga empat tahun sekali, di mana pelaksanaannya berselang dua tahun dengan Euro, maka akan ada kompetisi internasional selama dua tahun sekali, pun demikian dengan negara di Amerika dan Asia.

Melalui ajang yang datangnya dua tahun sekali tersebut, para pemain sepakbola akan menunjukkan kemampuan terbaiknya demi mencapai target utama; meraih predikat juara. Maka di ajang tersebut, kita tidak pernah melihat seorang pemain pun yang tidak serius dalam menjalani tiap pertandingan. Semua menganggap tiap pertandingan adalah pertandingan terakhir/final.

Setiap pemain menjadikan momen Euro/Piala Dunia adalah momen paling spesial yang harus dimaksimalkan, karena mereka menyadari bahwa mereka belum tentu bisa mengikuti kompetisi serupa di periode selanjutnya. Bisa karena alasan menurunnya performa, dibekap cidera, ataupun tutup usia.

Selain itu, kompetisi internasional tersebut bukanlah akhir dari perjuangan karir mereka. Melalui momen tersebut justru para pemain mempersiapkan diri untuk menjalani kompetisi domestik di musim selanjutnya bersama klub-klub di masing-masing negara. Performa terbaik selama Euro/Piala Dunia akan membuat mereka dilirik oleh klub-klub besar. Dan tentu saja, performa tersebut harus senantiasa terjaga dan ditingkatkan, karena jika tidak, mereka akan terpinggirkan di klubnya dan tidak akan bisa menjadi pemain besar. Begitupun saat menjalani kompetisi domestik, para pemain akan senantiasa meningkatkan performanya agar bisa tampil lagi di kompetisi Euro ataupun Piala Dunia.

***

Sahabat sekalian, jika kita renungkan, maka hal di atas tak ubahnya seperti Ramadhan yang sedang kita jalani. Sepertihalnya para pemain sepakbola yang serius menjalani Euro/Piala Dunia, maka seperti itulah seharusnya kita memaksimalkan bulan Ramadhan yang hanya sekali stahun ini agar target utama kita untuk meraih predikat taqwa bisa tercapai. Kita juga harus menjadikan hari demi hari dalam Ramadhan adalah pertandingan final bagi kita, jika tidak serius maka akan gugur. Dan sepertihalnya pemain sepakbola tersebut, kita harus benar-benar menyadari bahwa kita belum tentu bisa ikut berlaga di kompetisi Ramadhan selanjutnya. Maka, atas dasar apa kita bisa melewatkan Ramadhan begitu saja?

Performa kita selama Ramadhan juga sudah selayaknya menjadi bekal untuk menjalani pertandingan kehidupan yang akan bergulir di depan kita. Semangat beribadah yang telah kita tumbuhkan selama Ramadhan ini, tidak boleh pupus begitu saja, harus terus dan senantiasa kita rawat. Bukankah kita ingin merasakan bulan-bulan lain di luar Ramadhan serasa Ramadhan juga?

Maka, sebagai "pemain" yang bersimbah noda, Ramadhan adalah momen terbaik bagi kita untuk memohon ampunan-Nya. Dianugerahkannya Ramadhan kepada manusia adalah merupakan cara Allah untuk mencetak pemain-pemain tangguh yang siap mengangkat piala taqwa. Tentu para juara-lah yang akan bisa mengangkatnya.

Semoga Ramadhan kali ini tidak berlalu sia-sia. Aamiin.

Yogyakarta, 1 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar