Rabu, 16 Maret 2016

Menagih Janji Tuhan

Tersebutlah seorang pemuda yang sangat baik. Sebut saja namanya Bowo. Kebaikan yang paling terlihat dari dirinya adalah ketika ada temannya yang ingin meminjam uang kepadanya ia selalu bersedia meminjamkan. Hingga pada suatu ketika, Bowo sangat kecewa kepada teman-temannya tersebut dikarenakan saat giliran Bowo ingin meminjam uang, teman-temannya tersebut enggan meminjamkan dengan berbagai alasan. Bowo pun menyesal dulu pernah membantu mereka. Dan sejak saat itu dia marah dan berjanji tidak akan lagi membantu teman-temannya itu.

***
Bunga adalah anak muda yang cukup aktif di desanya. Kepeduliannya terhadap masyarakat membuat ia tergerak untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat di desanya. Pengajian, pelatihan, hingga penyuluhan sudah pernah ia lakukan. Bahkan tak jarang ia sampai harus merogoh saku pribadi demi kelancaran kegiatan. Namun ia begitu kecewa ketika sebagian masyarakat memberikan respon yang kurang baik kepadanya. Nama Bunga juga sempat menjadi salah satu kandidat Ketua Karang Taruna di desanya. Tapi ia gagal karena tak banyak yang memilihnya. Bunga semakin kecewa, seolah apa yang ia lakukan selama ini sama sekali tak dihargai.

***

Kawan, barangkali di antara kita pernah melihat atau bahkan mengalami kejadian seperti kejadian di atas. Mungkin selama menjalani hidup ini kita pernah merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan sia-sia saja. Atau mungkin tidak mendapatkan timbal balik yang sepadan dari kebaikan yang kita lakukan. Kemudian kekecewaan menghampiri.

Lalu kita bertanya, mana janji Allah yang mengatakan bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan? Bukankah dalam Surah Ar Rahman ayat 60 Allah mengatakan “Hal jazaaul ihsan illal ihsan”, Tidak ada balasan dari suatu kebaikan melainkan kebaikan (pula)? Apakah janji itu benar-benar ada?

Mari sejenak kita merenung.

Sekarang mari kita mencoba berpikir dengan akal jernih. Apakah memang Allah telah ingkar janji, atau kita yang salah persepsi?

Mengharapkan kebaikan itu tidaklah salah, namun akan kurang tepat jika kita mengharapkannya dari sesama makhluk . Barangkali itu yang menyebabkan kita kecewa, karena mengharapkan balasan kebaikan dari manusia, bukan dari-Nya. Jika demikian adanya, maka kita memang harus bersiap untuk kecewa.

Kebaikan itu datangnya dari Allah, yang sampai kepada kita melalui bermacam-macam cara juga perantara, dan tidak selalu melalui orang yang kepadanya kita telah berbuat kebaikan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia lebih mengerti kebaikan apa yang kita butuhkan dan kapan kita membutuhkannya.

Dalam hidup ini mungkin kita pernah mengalami situasi di mana kita sedang terhimpit masalah yang teramat rumit, dan tiba-tiba ada orang yang bersedia membantu menyelesaikan masalah kita tersebut. Atau mungkin ada semacam petunjuk yang entah dari mana datangnya sehingga kita bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Atau mungkin kita pernah mengalami kejadian di mana saat kita berkendara dengan kencang, kemudian kita terjebak dalam posisi yang kemungkinan besar kita akan celaka (ditabrak/menabrak/jatuh). Namun di luar dugaan, dalam sepersekian detik kita bisa terhindar dari musibah tersebut dan akhirnya selamat.

Dua kejadian di atas hanyaah contoh kecil di mana ada “invisible hand” yang kadang kita tidak sadari. Mungkin kita menganggapnya hanya sebagai sebuah kebetulan saja. Padahal di balik semua itu ada rencana yang sudah tertulis rapi. Bisa jadi, melalui cara seperti itulah Allah membalas kebaikan yang pernah kita lakukan.

Berbuat kebaikan itu ibarat kita memanen padi. Ketika padi tersebut belum kita butuhkan saat ini, kita akan menyimpannya di sebuah lumbung. Semakin banyak yang kita simpan, maka lumbung padi tersebut akan semakin banyak terisi. Dan ketika suatu saat kita membutuhkan, kita tinggal mengambilnya di lumbung tersebut. Begitupun dengan kebaikan yang kita lakukan, Allah akan menimpannya dalam sebuah “lumbung kebaikan”.

Semua kebaikan yang tersimpan di lumbung kebaikan nantinya akan dikembalikan kepada kita, dan sesekali Allah tidak akan menguranginya sedikitpun, kecuali jika kita melakukan perbuatan yang mampu membakar nilai kebaikan. Bahkan ketika balasan kebaikan belum kita terima semasa hidup di dunia, Allah akan membalasnya di akhirat kelak dengan kebaikan yang bisa jadi berkali-kali lipat. Atau bisa jadi kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan menjadi penggugur dosa dalam diri kita. Wallahu a'lam.

Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sekecil apapun kebaikan itu, malaikat tak akan pernah luput mencatatnya, meskipun hanya sekadar mengucap salam kepada sesama. Dan sungguh Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.


Semoga bermanfaat J


1 komentar:

  1. Ya ya ya...
    Suka dengan kutipan terakhirnya, "Tak ada kebaikan yang sia-sia. Sekecil apapun, malaikat tdk luput utk mencatatnya. Meskipun hanya mengucap salam kepada sesama."

    BalasHapus