Kamis, 03 Maret 2016

Front of The Class; Sebuah Resensi Film


       Front of The Class adalah sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata yang terjadi di Georgia, sebuah negara bagian di Amerika. Film berdurasi 1 jam 37 menit 47 detik Ini menceritakan kisah hidup Brad Cohen, seseorang yang berjuang melawan Tourette Syndrom sejak ia berumur enam tahun.

Tourette Syndrom adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan tanpa bisa mengontrolnya. Penyakit ini diwariskan secara turun temurun dan seringkali dikaitkan dengan pengeluaran ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan (Wikipedia). Khusus untuk penyakit yang diderita Brad, ia sering mengeluarkan suara yang mirip gonggongan anjing kecil, disertai dengan gerakan kepala miring ke samping.


Film yang dirilis tahun 2008 ini dikemas secara sederhana. Alurnya pun mengalir seperti cerita hidup pada umumnya. Namun bagi yang hatinya mudah tersentuh, bisa dipastikan akan terenyuh.

Brad menjalani masa kecil yang kurang menyenangkan. Ia sering dikucilkan oleh teman-temannya. Bahkan sebagian dari mereka memanggil Brad dengan sebutan Si Sakit atau Si Gila. Bahkan ayahnya sendiri sering memarahi Brad karena ulah anehnya tersebut. Dan ujian Brad semakin sulit ketika orang tuanya memutuskan cerai. Brad dan Jeff adiknya tinggal bersama ibunya.

Brad sangat benci dengan sekolah, karena sekolah yang harusnya menjadi tempat bermain bagi anak-anak malah membuat dirinya tertekan. Ia kerap kali diusir keluar oleh gurunya karena suaranya dianggap menganggu konsentrasi belajar teman-temannya. Yang sangat disayangkan adalah, guru yang seharusnya bisa memahami kondisi psikologi siswanya, justru malah menuduh Brad melakukan hal itu dengan sengaja. Ah, ini mengingatkanku pada kondisi pendidikan di negeri ini.

Karena dianggap mengganggu, akhirnya Brad dikeluarkan dari sekolahnya. Sungguh menyedihkan.

Ujian belum selesai. Di sekolah barunya, Brad tetap mengalami hal yang sama; diusir keluar kelas oleh gurunya. Kabar tersebut sampai ke Kepala Sekolah. Kepala sekolah nampak begitu kesal terhadap Brad. Tanpa alasan yang jelas, kepala sekolah menyuruh Brad untuk datang di sebuah konser orkestra sekolah di sore harinya.

Sebenarnya Brad menolak, karena itu sama saja membuatnya malu. Namun karena dipaksa oleh kepala sekolah, akhirnya ia datang. Dan barangkali kita semua bisa menebak apa yang akan terjadi di pertunjukan orkestra tersebut. Ya benar, suara aneh Brad telah merusak kemerduan alunan musik orkestra.

Setelah pertunjukan selesai, melalu pengeras suara kepala sekolah  mengatakan bahwa suara aneh yang telah mengganggu orkestra tersebut adalah suara Brad. Seketika wajah Brad berubah pucat.

Tak hanya sampai di situ, kepala sekolah kemudian memanggil Brad untuk naik ke panggung. Dengan sedikit ketakutan, Brad pun naik ke panggung.

Namun ternyata, kepala sekolah bermaksud memberi kesempatan kepada Brad untuk menjelaskan apa yang dialaminya kepada semua orang yang hadir. Dan itulah yang sebenarnya Brad harapkan selama ini; diberi kesempatan untuk menjelaskan.

 “Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?” Ucap kepala sekolah.

”Aku hanya ingin diperlakukan seperti yang lain”. Jawab Brad singkat.

Kepala sekolah seakan mengajarkan bagaimana seharusnya seorang pendidik menempatkan diri. Bukan sebagai seorang yang menghakimi, tapi sebagai orang tua yang mampu memahami. Pendidik bukanlah monster yang tindakannya bisa membunuh karakter diri, tapi sahabat yang membantu murid menemukan potensi. Itulah pendidik sejati.

Dan sejak saat itu, Brad kecil bercita-cita ingin menjadi guru. Sebuah cita-cita yang bahkan ayahnya sendiri tak percaya bahwa Brad akan berhasil mewujudkannya.

Setelah lulus kuliah, Cohen (panggilan Brad dewasa) berniat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru SD. Ia punya misi besar, yaitu menjadikan sekolah/kelas sebagai tempat yang menyenangkan bagi murid. Ia tak ingin anak-anak yang lain mengalami hal yang sama dengan dirinya.

Cohen pun mulai mendatangi beberapa sekolah untuk memasukkan lamaran pekerjaan. Namun dari semua sekolah yang ia datangi, semua menolaknya. Tentu saja alasannya adalah tourette syndromnya. Namun bukan Cohen jika menyerah begitu saja. Ia tidak akan pernah membiarkan tourette syndrom mengalahkan dirinya. Itu yang pernah ia katakan.

Sepintas, penolakan tersebut sangat masuk akal. Bagaimana mungkin seorang yang sering mengeluarkan kata-kata aneh bisa menjadi guru, sebuah profesi yang sangat mengandalkan komunikasi. Namun, setelah berjuang tanpa henti, akhirnya Cohen mendapatkan kesempatan mengajar di sebuah sekolah dasar, setelah 25 kali melewati penolakan. Tak banyak orang yang bisa kuat bertahan seperti Cohen.

Cohen diberi satu tahun masa uji coba. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia tunjukkan kemampuannya dalam mengajar sekaligus mendidik. Cohen menjadikan kelasnya begitu menyenangkan, di mana murid-muridnya aktif, kreatif, dan begitu percaya diri. Cohen pun menjadi guru favorit murid-murid di sekolah tersebut. Dan sungguh tak disangka, di tahun pertama menjalani masa uji coba sebagai guru, Cohen meraih penghargaan guru terbaik se-Georgia.

Tentu haru yang dirasakan. Ketika hampir semua orang meragukannya karena penyakit yang ia miliki, Cohen membuktikannya dengan sebuah prestasi. Dalam sambutannya saat menerima penghargaan, Cohen mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan besar dalam meraih mimpinya, khususnya kepada guru terbaiknya; tourette syndrome.

Tourette telah mengajarkan aku pelajaran yang paling berharga. Jangan pernah membiarkan apapun menghentikan kamu dari mengejar impianmu, dari bekerja, atau bermain, atau jatuh cinta.” Ucap Cohen yang disambut dengan tepuk tangan penonton.

Demikianlah kisah yang sarat makna ini. Kisah yang mengajarkan kepada kita bagaimana menempatkan diri. Entah itu sebagai orang tua, sebagai guru, ataupun sebagai manusia yang tak boleh terpuruk dengan kelemahan yang ada pada dirinya.




Serang, 3 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar