Minggu, 13 Maret 2016

Berperanglah dengan Senjatamu Masing-masing

Salah satu bukti kekuasaan Allah adalah diciptakannya manusia dengan berbagai potensi yang ada di dalam dirinya. Setiap jiwa yang dilahirkan ke dunia ini memiliki potensi masing-masing. Ada beberapa yang hampir sama, namun banyak juga yang berbeda.

Perbedaan potensi tersebut bukan berarti untuk menilai siapa yang lebih tinggi di antaranya. Sekali lagi bukan.

Barangkali Avengers bisa menjadi analogi sederhana. Para superhero dari komik Marvel tersebut sejatinya teah mengajarkan  bagaimana kita bisa mengoptimalkan potensi dalam diri kita masing-masing.


Captain Amerika dengan tameng bundarnya , ia jago bertarung. Thor Odinson dengan Mjolnir, sebuah palu yang dapat memanipulasi cuaca dan mendatangkan dan menembakkan petir bertegangan tinggi. Tony Stark dengan baju zirah yang tebuat dari titanium, yang dilengkapi dengan persenjataan serta gadget super canggih. Di telapak tangan dan kaki terdapat jet booster yang membuatnya bisa terbang. Hulk dengan fisiknya yang super kuat dan memiliki kecepatan dan kelincahan gerak. Hawkeye dengan kemampuan memanahnya yang memiliki kakuratan 99,99%. Black Widow yang jago beladiri dan kemampuan menggunakan berbagai macam senjata. Dan Nick Fury yang memiliki kemampuan yang baik dalam bernegosiasi.

Kemampuan mereka berbeda-beda, namun tujuan mereka sama; menyelamatkan bumi.

Demikian halnya dengan manusia yang diciptakan Allah di muka bumi ini, diciptakan dengan kemampuan berbeda-beda, yang tujuan sebenarnya hanya satu; memaksimalkan kemampuan tersebut sebagai upaya pengabdian diri kepada Allah.

Di antara kita ada yang dianugerahi kecerdasan fisik yang bagus, sehingga menjadi seorang atlet. Ada yang diberi kemampuan menghitung yang baik, sehingga menjadi seorang akuntan. Ada yang diberi kecenderungan untuk meneliti, sehingga ia menjadi seorang ilmuwan. Ada yang diberi kemampuan dalam mentransfer ilmu pengetahuan, sehingga ia menjadi pendidik. Ada yang diberi kemampuan berkomunikasi yang bagus, sehingga menjadi fasilitator. Dan kemampuan-kemampuan lainnya sehingga menjadi professional di bidangnya.

Pada hakikatnya, yang membedakan kita di hadapan Allah bukanlah apa profesi kita, tapi bagaimana kita memanfaatkan profesi kita tersebut. Apakah  untuk menebar kebaikan dan menyiramkan manfaat kepada sesama, atau hanya sekadar profesi yang tujuannya untuk  mengumpulkan pundi-pundi emas dan mengejar nama baik.

Tidak salah jika masing-masing dari kita memiliki kecenderungan di bidang tertentu. Karena setiap kita memiliki passion yang berbeda. Yang salah adalah ketika kita menganggap tidak baik profesi tertentu. (Tentunya ini tentang profesi yang halal ya). Bukankah para anggota Avengers tidak pernah mempermasalahkan siapa yang paling hebat di antara mereka?

Ini yang selayaknya menjadi acuan bagi kita. Bagi yang passionnya kerja di kantoran, silakan bekerja dengan sebaik-baiknya. Bagi yang passionnya kerja di lapangan, nikmati aktivitasnya. Jadilah teladan yang baik bagi masyarakat. Bagi yang mau menjadi PNS, silakan. Tunjukkanlah kinerja yang terbaik, sehingga keberadaan kita mampu membuat citra PNS semakin baik. Yang mau berbisnis juga silakan. Jadikanlah bisnis tersebut sebagai ladang amal; memberi kebaikan untuk karyawan dan masyarakat umum. Atau bahkan ketika memilih jadi tukang ojek sekalipun, silakan. Berikan pelayanan terbaik sehingga keberadaannya bisa mempermudah orang lain untuk berbuat kebaikan.

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?” (Al Qiyamah: 36)

Hidup ini tidak ada yang sia-sia, pun dengan pilihan hidup yang kita pilih. Mari menikmati peran yang telah kita pilih, peran yang sesuai dengan passion kita. Sembari berusaha untuk menjadikan peran kita tersebut bermanfaat bagi diri kita dan sesama, juga bagi  agama.

Tidak usah iri ataupun latah dengan peran orang lain. Lihat orang sukses dengan peran A, seketika mau peran A juga. Ketika ada orang sukses dengan peran B, kita pindah haluan mau peran B juga. Akhirnya kita ak pernah bisa maksimal dengan peran kita sendiri. Lebih baik kenali potensi diri, dan mulailah beraksi.


Setiap kita memiliki senjata, maka berperanglah dengan senjata masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar