Selasa, 02 Februari 2016

Gerakan Kerelawanan

Hari Minggu kemarin saya berkesempatan pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara syukuran 5 tahun Indonesia Mengajar. Sebuah acara untuk merefleksikan perjalanan IM selama 5 tahun ini. Dalam acara sederhana namun elegan tersebut, ada satu hal yang untuk kesekian kalinya membuat saya kagum  terhadap gerakan tersebut, yakni “kerelawanan”.


Di luar drama perdebatan mengenai IM terlibat dalam politik atau tidak, ada satu hal yang harus kita akui, bahwa gerakan ini telah mampu menggerakkan ribuan orang dengan latar belakang berbeda, dari kalangan tua maupun muda, dan bahkan dari semua agama. Semua tergerak tanpa ada yang diminta, dalam sebuah barisan yang bernama kerelawanan. 

Bagi orang yang belum terlalu mengenal IM, barangkali yang ada di benak mereka hanyalah tentang anak muda yang dikirim ke pelosok negeri untuk mengajar. Hal tersebut tidak salah, namun sebenarnya gerakan ini jauh lebih besar daripada itu.

Dalam kerumunan positif tersebut, banyak sekali orang yang terlibat di dalamnya. Ribuan. Saat saya menyebut ribuan, percayalah bahwa itu benar adanya. Dan kesemuanya itu, bekerja atas nama relawan. Mulai dari komisi rekrutmen, yang menjadi EO untuk sosialisasi IM di kampus-kampus yang ada di Indonesia, mereka bukanlah panitia yang dibayar, tapi mereka adalah relawan yang kadang justru mereka yang menawarkan diri.

Kemudian saat seleksi calon Pengajar Muda: Esai, Psikotes, FGD, Wawancara, Microteaching, dll.  Yang menjadi assessor adalah relawan. Relawan yang kapabel tentunya. Pun saat pelatihan berlangsung, sebagian besar narasumbernya adalah relawan. Sebut saja tokoh pendidikan seperti Itje Chodijah, Munif Chatib, Weilin Han, dll. Mereka adalah relawan. Meskipun sebagian tetap diberi insentif, namun besarnya tak seperti saat mereka menjadi narsum di tempat lain. Juga tokoh2 yang diundang dalam sesi leadhership: Abah Iwan, Dik Doank, Tulus, Efek Rumah Kaca, Amilia Agustin si Ratu Sampah, Kiswanti (Warabal), Angga Dwimas Sasongko, dan masih banyak yang lainnya, semua juga relawan.

Belum lagi jika kita berbicara mengenai Kelas Inspirasi. Sebuah acara bertajuk profesionalisme berbagi yang sudah terlaksana di puluhan kabupaten kota di seluruh Indonesia, semua digerakkan oleh relawan. Mulai dari panitianya, fotografernya, videografernya, fasilitatornya, hingga inspiratornya. Semua adalah relawan. Juga tentang Indonesia menyala, sebuah kumpulan anak muda yang bergerak di bidang peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat, yang kini sudah tersebar di seluruh penjuru republik, mereka adalah relawan.

Lebih dari itu, bahkan setiap event yang dilakukan IM, semua digerakkan dan oleh relawan. FGIM misalnya, yang 2013 lalu berhasil menarik hampir 10,000 relawan untuk datang ke Ancol untuk kerja nyata untuk kemajuan pendidikan, dan 2015 kemarin telah mengirim relawan ke seluruh penempatan IM untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada pelaku pendidikan di daerah.

Dan bahkan acara syukuran kemarin, semua dikelola oleh relawan, dan semua yang terlibat juga relawan. Sebuah acara besar namun tak banyak mengeluarkan uang. Tempat acara (hall Pertamina) yang gratis, bagde (ID Card) diprint sendiri oleh peserta, potluck yang dibawa oleh peserta dan dimakan bersama, dan berbagai wahana bermain yang disiapkan sendiri oleh para komunitas relawan.


Melalui tulisan saya yang panjang kali lebar kali tinggi di atas, ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran:

  1. Bahwa hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah saat kita bisa berbagi, saat hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri.
  2. Bahwa di republik ini masih banyak orang baik, orang yang peduli, dan orang yang mau berbagi. Meskipun menurut media di negeri ini hal semacam ini bukanlah berita yang seksi.
  3. Bahwasanya kebaikan itu menular. Gerakan ini awalnya hanya diinisiasi oleh lima orang saja, namun kini sudah membesar dan melibatkan ribuan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga kita harus yakin bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Mari terus menebar kebaikan, agar kebaikan itu terus meluas dan menyelimuti bumi.
  4. Bahwa melakukan suatu perubahan tidak melulu harus dengan uang. Kata Anies Baswedan, Relawan itu tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar