Minggu, 15 November 2015

Gadis Baduy

Satu-persatu kaki-kaki itu terlihat menapaki jalan setapak saat petang mulai menyapa. Gerakannya tak seperti gerakan kaki biasanya. Lebih cepat sepersekian detik dari langkah pejalan kaki pada umumnya. Sesekali terlihat kaki-kaki itu berlari kecil dengan hentakan yang tak bersuara.

Kaki-kaki telanjang itu seperti tak mengenal lelah, menjejaki medan yang kadang tak ramah; pendakian terjal dan dan bebatuan curam. Ia terlihat sangat kuat saat mendaki, dan begitu tenang saat menyusuri penurunan. Seakan kaki-kaki itu sudah ribuan kali melaluinya.

Sekelompok gadis pemilik kaki-kaki itu pun berjalan melalui kami yang juga sedang berjalan dengan arah yang sama. Meskipun sebelumnya mereka jauh di belakang kami, bahkan tak terlihat awalnya. Terlihat senyum yang sedikit terkembang saat wajah-wajah itu melalui kami.

Tak lama setelah itu, muncul lagi sekelompok anak gadis dari arah belakang yang entah darimana asalnya. Sama dengan kelompok yang sebelumnya, para gadis itu memakai pakaian yang sama, baju putih polos dan rok hitam sederhana. Konon, menurut cerita adat mereka, warna tersebut untuk menggambarkan keadaan di alam ini, bahwa di dunia ini hitam dan putih akan selalu ada. Ketika ada kebaikan, akan ada ketidakbaikan yang mengikutinya.

Di bagian belakang tubuh gadis-gadis itu terdapat kain hitam yang terikat di punggungnya untuk membawa beberapa barang bawaannya. Kain itu sepertinya adalah sebuah benda yang wajib mereka bawa saat bepergian.

Jumlah dalam setiap kelompok beragam. Biasanya sekitar 5-10 orang. Dari pola barisannya yang semakin tinggi ke belakang, mereka tidakah seumuran. Barisan paling depan adalah gadis kecil dengan kisaran usia 8-9 tahun, dan di barisan belakang adalah mereka yang sudah nampak lebih dewasa. Sebuah tradisi yang barangkali juga bukan tanpa alasan.

Tak ada satupun laki-laki dalam kelompok itu. Mereka sangat menjunjung tinggi adat, bahwa perempuan tidak boleh bercampur dengan laki-laki sebelum ada ikatan suci. Barisan tiap kelompok itu juga terlihat sangat rapi. Tidak ada yang saling mendahului.
***
Tiap pagi, beberapa kelompok gadis itu selalu melewati jalan yang sama, menuju sebuah ladang yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Dan saat petang tiba, gadis-gadis itu akan kembali terlihat melintasi jalan yang sama, kembai menuju tempat yang ditinggalinya.

Gadis-gadis itu memang tak sekolah. Itu memang sudah menjadi tradisi yang turun temurun dari leluhur mereka. Ladang menjadi satu-satunya tempat beraktivitas. Sebagian anak gadis yang lain ada yang memilih tinggal di rumah, untuk belajar membuat kain tenun. Dalam tradisi mereka, anak-anak sudah dibiasakan untuk bekerja sejak mereka masih kecil. Bahkan, setiap bayi yang lahir sudah mulai dibawa ke ladang setelah berusia tujuh hari.

***

Gelap makin menyelimuti saat beberapa kelompok gadis yang lain berjalan melalui kami. Beberapa dari kami mengeluarkan senter untuk menerangi jalan. Sesekali kami berhenti, kemudian berjalan pelan menyusuri jalan licin dan berbatu. Sementara di kejauhan terlihat sekelompok gadis tadi berjalan tanpa hambatan, membelah gelap malam meskipun tanpa sedikitpun penerangan.

Entah pendidikan macam apa yang ditanamkan ke gadis-gadis itu, sehingga mereka tumbuh menjadi gadis yang berani, kuat, dan tak kenal lelah. Entah bagaimana orang tuanya menempanya hingga mereka menjadi gadis yang mampu keras bekerja dan jauh dari kata manja.

Perlahan tubuh mereka mulai hilang dari pandangan kami. Sekelompok gadis itu telah jauh meninggalkan kami yang masih harus memilih-milih medan mana yang bagus untuk dilewati.

Setelah melalui sekitar empat jam perjalanan, rombongan kamipun sampai di perkampungan itu, perkampungan Cibeo, Baduy dalam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar