Rabu, 11 November 2015

Memories in Baduy


Salah satu cara untuk mengetahui karakter seseorang adalah dengan melakukan perjalanan. Saat berperjalanan, kita akan melihat karakter partner yang selama ini tak kelihatan. Mulai dari cara ia berjalan, porsi makan, hingga kebiasaan tak mandi selama seharian. 

Tak banyak yang bisa saya tulis dari cerita perjalanan ke Baduy kemarin. Tidak ada hal yang terlalu istimewa menurut saya. Tapi setidaknya. semua terasa berbeda karena ada 14 orang aneh yang membersamai saya.  


Enggi: guide baik hati yang memiliki kebiasaan aneh. Memakai pakaian berlapis saat matahari menyengat. Saat ditanya apakah tidak kepanasan, sambil tersenyum palsu dia menjawab tidak, tapi keringat yang mengucur deras di dahinya mengatakan jawaban sebaliknya.

Iim: potret suami ideal. Rela membawakan tas orang lain saat perjalanan cukup berat. Tapi sebenernya saya tidak yakin apakah dia masih mau bawain kalo yang minta tolong adalah Aul, yang mana di dalam tasnya ada, sleeping bag, galon, kulkas dan indoma*et. Tapi  bagaimanapun Iim tetep potret suami ideal, setelah lelaki seperti saya sudah tak ada lagi.

Imat: salah satu anggota boy band Korea ini rela pergi ke Baduy hanya untuk satu tujuan khusus: mencari calon istri. Berbagai macam cara ia lakukan untuk mewujudkan misinya, mulai dari menyuap snack kepada anak warga Baduy, meninggalkan tumbler dengan sengaja, sampai menggelapkan ayam goreng jatah makan malam kelompok untuk diberikan kepada para gadis Baduy yang pulang dari kebun. Dan untuk semua usaha yang ia lakukan, hasilnya NIHIL.

Aul: Baru sepintas melihatnya, saya sudah yakin bahwa dia anggota BPJS, Badan Perserikatan Jomblo Syariah. Lelaki yang mahir mendesain ­ ini_meskipun masih gagal mendesain rumah tangga_cukup pintar memengaruhi orang lain. Terbukti, atas pengaruhnya, niat saya untuk mandi pun luntur.

Okky: sumpah, saya kagum sama anak muda ini. Bayangkan aja, sepanjang perjalanan pulang dari Baduy dalam, ia tak berhenti mengaji. Entah itu benar-benar mengaji atau sedang membaca jampi untuk memikat gadis Baduy. Tapi apapun itu, dia benar-benar suamiable. Tapi karena umurnya yang masih terlalu muda, saya tidak menyarankan kepada ciwi-ciwi untuk memilihnya. Sebaiknya pilih yang sudah mulai termakan usia, Bapak Aulia misalnya.

Susetio: Di antara 14 orang rombongan, dialah yang paling besar badannya, tapi tidak untuk nyalinya. Lelaki yang kalimatnya kadang (ralat: bukan kadang, tapi sering) sulit dimengerti ini ternyata takut ketinggian. Kepadanya, saya cuma ingin bilang: “kalau naik di ketinggian saja takut, gimana mau naik pelaminan?”Beberapa hal aneh juga dilakukan oleh lelaki ini, seperti makan biskuit saat yang lain kehausan dalam perjalanan, dan membawa pointer saat yang lain membawa senter.

Redho: Sepertinya saya tidak perlu menceritakan banyak tentang dia. Memilih berangkat atau tidak saja dia bimbang, bagaimana mau memilih pasangan hidup #ahsudahlah.

Niken: Saat berangkat ia begitu ceria, namun terlihat lelah saat pulangnya. Setelah saya telusuri, ternyata ada dua hal yang menyebabkan itu terjadi. Pertama karena ayamnya melarikan diri, kedua karena Safri ternyata telah beristri. Untuk alasan yang ini, Niken sampai tak kuat berjalan lagi.

Elsa: Perempuan yang cukup dingin, tak banyak tingkah seperti perempuan lainnya, yang ketika bicara penuh dengan filosofi. Barangkali jika ada orang yang mau mendekatinya, orang tersebut harus menyiapkan dulu beberapa jawaban tentang filosofi hidup, filosofi jalan cepat, filosofi kamera, filosofi ayam goreng hilang, atau filosofi kenapa sebagian besar perempuan gila akan kameranya gak ketulungan.

Ika: don’t judge by cover. Itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan Ika. Karena meskipun ukuran tubuhnya hemat, tapi amplitudo suaranya di atas 120 desibel, mengalahkan suara mesin pemotong batu akik. Saat dia berteriak di Baduy luar, suaranya akan mampu menembus sampai Baduy dalam. Tapi hikmahnya adalah, barangkali kita akan terbiasa saat nanti sangkakala Malaikat Isrofil ditiupkan.

Niqla: jika Imat memiliki misi mencari calon istri, perempuan yang gila kameranya gak ketulungan ini memiliki misi mencari resep diri agar cantik alami, seperti gadis Baduy. Tapi sayang semua itu hanya ilusi, karena cantik itu letaknya di dalam hati, juga di mata suami. Sehingga Niqla akan tetap seperti ini, karena sampai sekarang dia masih sendiri, sebab kode kerasnya selama ini belum ada yang menanggapi. Hiks

Yeni: kegilaannya dengan kamera 11-12 dengan Niqla. Jika foto-foto selama perjalanan ke Baduy kemarin dihitung persentasinya, barangkali 30% adalah foto Yeni, 30% lagi foto Niqla, 20% foto mereka berdua, dan 20% adalah foto bersama, dimana mereka berdua ada juga. Meskipun begitu, saya ucapkan terimakasih untuk Yeni yang sudah datang jauh-jauh dari Kalimantan meski tak diundang. Terimakasih juga untuk oleh-olehnya, meskipun tidak ada bagian untuk saya.

Nita: maafkan saya Nita yang tak banyak ingat tentang dirimu. Kata orang, orang yang susadh diingat itu berarti pelit. Tapi tidak untuk Nita. Karena saat perjalanan pulang, dia menraktir minuman kepada beberapa orang, termasuk saya. Namun saya menolaknya, karena saya tau dia sedang berusaha meracuni saya, atau bisa jadi dia sudah memasang pelet agar saya terpikat padanya. Hmm.. lagu lama.

Ratna: Tak banyak yang saya ingat dari Ratna. Selain karena tak banyak berinteraksi dengan Ratna, intensitas bicaranya yang di atas rata-rata membuat ingatanku tak berjalan sebagaimana mestinya. Hanya satu hal yang saya ingat darinya, yaitu hobinya memasukkan kaos kaki kotor di dalam bungkus coklat. Itu sungguh kebiasaan yang tak biasa.

Kifah: saya sengaja menulis nama Kifah paling akhir, sesuai dengan kedatangannya yang paling terakhir, yang menyebabkan rombongan terpanggang dalam mobil yang terparkir. Tapi semoga nikahnya bukan yang paling akhir. Saya salut dengan perjuangan Kifah yang tetap berusaha berangkat meski (katanya) ditilang. Tapi bersyukurlah jika ada yang menilang, daripada Aul yang hingga kini hatinya belum ada juga yang menilang.


Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain waktu. Kalau jodoh pasti bertemu. Kalaupun tidak jodoh, masih bisa kita bertamu.


Baca juga Gadis Baduy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar