Jumat, 04 September 2015

Sebuah Catatan Ulang Tahun

Bagi orang-orang tertentu, barangkali ultah menjadi momen yg spesial. Bagi saya, ultah sama saja dgn hari-hari biasa. Tapi setidaknya, saya bersyukur karena banyak sahabat dan kolega yang mendoakan saya.

Mengenai tgl lahir, ada beberapa teman saya yang begitu bangga karena tgl lahirnya bertepatan dgn hari besar nasional; Hari Proklamasi, Hari Sumpah Pemuda, Hardiknas, dll. Alhamdulillah, saya bertepatan dgn hari pelanggan. Sedih 😔. 
Saya pun coba cari informasi lagi tentang 4 September. Saya kemudian tersenyum_meski agak kecut_setelah melihat tulisan Hari Hijab Internasional. Untung saja tidak ada yang ngasih kado jilbab ke saya. Apalagi mukena.

4 September itu zodiaknya Virgo. Tapi saya tidak pernah percaya dengan yg begituan. Itu syirik. Terlebih lagi setelah hubungan saya dgn seseorang buyar gara-gara dia lebih percaya zodiak di majalah Aneka Yess ketimbang saya. Ah lupakan saja. Itu masa kelam saat saya masih kelas 2 SMP 🙈.

Di antara ucapan selamat ke saya, saya paling males bales kalau ada yg ngucapin selamat kemudian minta traktir. Bayangkan aja kalau ada puluhan orang yang ngucapin selamat dan minta traktir semua. Masih mending kalau minta traktirnya cuma cilok, tapi ini minta ditraktir pulsa, nonton, karaokean, futsal, dll. Ini minta ditraktir apa ngrampok? Ah.. di situlah kadang saya merasa lebih enak menjadi "putra yang tertukar" dan tidak tau tanggal lahirnya.

Tapi di antara ucapan yg saya terima, rata-rata doanya sama: semoga cepet nikah. Saya juga bingung sih. Umur saya juga belum tua-tua amat, baru seperempat abad lebih sedikit. Lebih 24 bulan tepatnya. Tapi saya aminkan saja. Karena sebenernya saya juga sudah pengen keluar dari keanggotaan BPJS (Badan Perserikatan Jomblo Syariah).

Menurut saya usia 27 adalah usia yg matang. Meskipun saya juga sadar setelah matang biasanya tak lama lagi busuk 😂. Di usia ini, orang biasanya tegas dalam mengambil keputusan, tegang dalam menanti jawaban, dan tegar dalam menerima kenyataan 🙊

Kembali ke masalah ultah. Jujur, sampai sekarang saya masih bingung dgn tradisi tiup lilin saat ultah. Itu kan tradisi bangsa Eropa tempo dulu. Ngapain diikutin coba. Sekarang kan sudah zaman modern, harusnya bukan lilin lagi yang ditiup, tapi lampu phillips. Dijamin sampe ultah tahun depan ga mati-mati juga. 

Tradisi kue tar kan juga bisa diganti dgn pangan lokal Indonesia saja. Misalnya papeda (makanan dari sagu). Lebih irit malah. Tapi barangkali inilah alasan kenapa laki-laki harus kerja keras. Karena perempuan tahu bedanya kue tar dan papeda. 

Bagi saya, ultah itu intinya muhasabah diri, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sembari menyebar CV, agar ultah tahun depan tak sendiri lagi. 

Ulang tahun itu berarti jatah umur berkurang. Karena hidup ini memang tak panjang. Siapa terlena, pasti kan terpana, bujuknya, rayunya, suaranya, yang memikat simpati dan harapan. Jika Anda tahu potongan lagu tersebut, berarti Anda seumuran dgn saya, atau bisa jadi lebih tua.

~AA, 4 September 2015~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar