Selasa, 01 September 2015

Kiswanti; Perempuan Penggila Buku

Tiba-tiba saja saya teringat kembali pada sepenggal momen di bulan Mei 2015. Saat itu saya dan 51 orang lainnya sedang mengikuti pelatihan Calon Pengajar Muda Indonesia Mengajar.

Sebagai informasi, dalam pelatihan Calon Pengajar Muda, sekali dalam seminggu ada sebuah sesi yang bernama Forum Leadership. Para CPM akan belajar nilai-nilai kepemimpinan dari narasumber dengan berbagai latar belakang. Dan malam itu, kami kedatangan seorang ibu paruh baya dari Kabupaten Bogor.

Kiswanti, begitu ibu tersebut mengenalkan namanya. Penampilannya begitu sederhana, karena memang dia bukanlah orang yang bergelimang harta. Tutur katanya pun santun dan bersahaja, meski kadang tak berpola. 


"Mohon dimaklumi ya, saya hanya tamatan SD". Demikian ibu itu menjelaskan.

Meski putus sekolah_karena alasan biaya, Bu Kiswanti kecil tetap rajin belajar. Ia begitu senang membaca. Membaca apa saja, dimana saja. Ia belajar dari buku, surat kabar, dan majalah bekas yang dibawa ayahnya saat pulang kerja sebagai penarik becak. Dan dari pengalaman hidup itulah Bu Kiswanti memiliki cita-cita yang teramat mulia: mendirikan perpustakaan dan sekolah gratis. 

Sejak kecil Bu Kiswanti juga sudah belajar mencari uang. Dari penghasilannya yang sedikit itu, ia selalu sisihkan untuk membeli buku. Ia juga pernah bekerja menjadi PRT yang digaji_atau lebih tepatnya meminta digaji_dengan koleksi buku majikannya. Alasannya sederhana: agar mimpinya terwujud. 

Kecintaan Bu Kiswanti terhadap buku begitu besar. Sehingga hampir seluruh aktivitasnya adalah untuk buku; membeli, membaca, merawat. Bahkan ia mengajukan empat syarat kepada calon suaminya yang salah satunya agar ia boleh tetap bekerja dan penghasilannya untuk koleksi buku. Semua ia lakukan demi mimpinya. Perjanjian itupun ditandatangani kedua belah pihak di atas meterai 300, meterai termahal saat itu. 

Sampai pada malam itu, jumlah buku yang dimiliki ibu berjilbab ini hampir mencapai 8.000 buah. Dan semua itu hasil usahanya sendiri. 

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, dan tentunya dengan segala tantangannya, salah satu cita-cita Bu Kiswanti pun terwujud; mendirikan perpustakaan gratis. Di rumahnya yang sederhana di Kabupaten Bogor, ia membuat sebuah perpustakaan yang bebas diakses oleh masyarakat sekitarnya. Ia menamainya dengan Warabal (Warung Baca Lebak Wangi). Ia juga menyediakan pendidikan tambahan dan keterampilan gratis untuk anak-anak di lingkungannya dari PAUD sampai SMA. 

Meski yang dilakukan begitu luar biasa, ibu yang memperoleh penghargaan sebagai Pahlawan Pustaka tersebut tetap rendah hati. Saat bercerita, ia malah lebih sering memuji kami yang ada di depannya. Dan tentu saja, itu adalah pujian yang malah menohok kami karena belum banyak berguna untuk sesama. Sesekali ibu itu terisak. Mungkin saja itu isak bahagia. Karena di tengah keterbatasan hidupnya, ia masih bisa berguna bagi orang banyak. 

"Satu hal yang sangat saya sesali dalam hidup saya, dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi". Ucap Bu Kiswanti membuat kami penasaran.

"Saya pernah satu kali membeli buku bajakan".

Kamipun diam. Wajah kami memerah seketika. Entah sudah berapa buku bajakan yang kami beli. 

Malam itu kami seakan tertampar. Betapa Bu Kiswanti telah mengajarkan bagaimana cara menggenggam dan mengejar mimpi. Dan saya pribadi sadar, belajar nilai kepemimpinan tidak harus melulu kepada seseorang yang ber"label" pemimpin. Belajar nilai kepemimpinan bisa kepada siapapun, termasuk orang-orang yang senantiasa bekerja dalam diam, seperti Bu Kiswanti. 

1 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar