Minggu, 23 Agustus 2015

Catatan Sederhana Pendaki Pemula

"Dia-lah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya ... (Al Mulk: 15)

Hamparan bumi yang begitu luas, dengan segala ke-eksotisan hiasannya, adalah salah satu tanda keagungan Sang Pencipta. Barisan gunung yang berdiri menantang, tinggi menjulang menembus putihnya lapis-lapis awan, menjadi salah satu bukti keindahan mahakarya Tuhan. Maka benarlah bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan.



Belajar mengenal Sang Khaliq tidak melulu melalui ayat qouliyah saja. Justru dengan melihat kekuasaan melalui ayat-ayat kauniyah-Nya, kita akan semakin yakin betapa Maha Besarnya Allah. 


Mendaki gunung, menyusuri hutan, menyatu dengan alam, adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk lebih memahami keMaha Kuasaan Allah. 


Tidak banyak yang bisa saya ceritakan bagaimana menakjubkannya saat mendaki gunung. Selain karena saya masih pendaki pemula, saya percaya bahwa keindahan itu tidak cukup hanya dengan diceritakan, tapi keindahan itu harus dialami dan dirasakan.


Saat mendaki gunung, kita akan sadar betapa Allah itu Maha Agung. Allah tidak mencipatakan sesuatu dengan sia-sia. 


"Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan gunung sebagai pasaknya?" (An Naba' 6-7).


Dari puncak gunung, akan terlihat jelas  luasnya bentangan langit biru yang memayungi bumi, dengan dilapisi awan yang membentuk gumpalan halus dan rapi. Membuat hampir semua pendaki melupakan keletihan yang dialami. Negeri di atas awan. Saya rasa ungkapan itu tidaklah berlebihan.


Dan saat gelap menyelimuti, nampaklah taburan bintang yang menggantung indah memenuhi dinding-dinding langit. Ia terasa begitu dekat, dan terlihat lebih banyak dari biasanya. 


Pesona pagi pun tak kalah eloknya. Kita akan terbius dengan kecantikan matahari saat ia mulai menampakkan wajahnya. Sebuah perhiasan dunia yang memanjakan mata, saat perlahan sinar sang surya mulai merambat ke permukaan dan menjamah ujung dedaunan yang sempat lembab oleh siklus alam. Sungguh mahakarya sempurna dari Sang Pemilik Kesempurnaan. 


Bagi pendaki yang berhasil mencapai puncak, ia akan sadar betapa kecilnya ia dibanding ciptaan Allah tersebut, apalagi di hadapan Allah. Maka, atas dasar apa manusia boleh menyombongkan diri? Di atas puncak gunung, manusia hanyalah sebuah titik kecil. Dan di situlah kita akan semakin yakin bahwa Allah Maha Besar.


Namun bukan sesuatu yang mudah untuk mencapai puncak. Selain membutuhkan waktu yang tak singkat, juga diperlukan fisik dan mental yang kuat. Saat mendaki apapun bisa saja terjadi; kedinginan, tersesat, jatuh, tergelincir, yang kesemuanya bisa jadi berujung pada kematian. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada kekuatan dan pertolongan selain dari Allah. Sungguh, betapa lemah dan tak berdaya diri kita ini di hadapan Allah. Dia-lah yang Maha Kuat dan Maha Kuasa. Tak ada sesuatupun yang berjalan kecuali atas kehendak-Nya.


Tentunya masih banyak pelajaran yang bisa diambil saat kita mendaki gunung. Sangat tidak cukup jika hanya diceritakan melalui layar smartphone ini. 


Demikianlah cara Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berakal. Dan Dia-lah yang menciptakan bumi dan seisinya dengan segala keindahannya. 

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

*ditulis pada Agustus 2015, setelah mendaki Puncak Lawu (3265 MDPL).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar