Rabu, 19 Agustus 2015

70 Tahun Merdeka, Apa Kabar (Pendidikan) Indonesia?

       Tepat tujuh puluh tahun yang lalu, di jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, bapak pendiri republik ini dengan lantang membacakan teks proklamasi kemerdekaan di hadapan rakyat Indonesia. Dengan pembacaan teks proklamasi tersebut, berarti Indonesia secara de facto telah bebas dari penjajahan Belanda. Penjajahan yang telah menenggelamkan Indonesia ke dalam keterpurukan yang teramat dalam. Penjajahan yang telah merampas hak tiap nyawa yang hidup di sepanjang pantai republik ini. 



       Saat republik ini didirikan, terdapat beberapa janji kemerdekaan yang telah diucapkan oleh para pemimpin di kala itu, yaitu janji melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan. Mengenai hal ini Anies Baswedan mengatakan, itu adalah janji kemerdekaan, bukan cita-cita kemerdekaan. Cita-cita itu sesuatu yang diharapkan dicapai, jika tidak tercapai bisa direvisi. Kalau janji adalah sesuatu yang harus dilunasi, ini sebuah hutang, janji adalah hutang dan hutang itu harus dilunasi. Republik ini ketika didirikan memiliki janji-janji tadi. Secara konstitusional adalah tugas negara untuk melunasi seluruh janji itu. Tapisecara moral itu adalah tugas setiap orang Indonesia.


       Salah satu janji kemerdekaan yang dirasa sangat penting adalah janji mencerdaskan kehidupan bangsa. Barangkali di antara kita tidak ada yang menyangkal jika pendidikan adalah aspek yang maha penting dalam memajukan sebuah negara. Juga barangkali semua sependapat jika masa depan bangsa ini akan ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Namun terkadang kita hanya berhenti sampai di situ. Masyarakat kita_lebih tepatnya pemerintah_terlihat kurang serius dalam menangani pendidikan di negeri ini. Sehingga pendidikan di negeri kita sampai saat ini belum juga menemui arah yang jelas.


       Tujuh puluh tahun adalah waktu yang terbilang cukup untuk membenahi sektor pendidikan. Lihat saja Jepang. Negeri matahari terbit tersebut mempunyai sejarah yang hampir sama dengan Indonesia. Pada tahun 1945, negara yang sudah cukup berkembang di masanya tersebut harus memulai kembali segalanya dari nol setelah “Fat Man” meluluhlantahkan Hiroshima dan Nagasaki. Namun mereka tidak larut dalam kegelapan tersebut. Justru mereka menjadikan itu semua sebagai titik balik kebangkitan. Dan hari ini Jepang telah menjelma menjadi negara super dengan kecanggihan teknologi berkat pendidikannya. Sementara Indonesia, sampai saat ini pendidikan di negeri ini masih belum menemukan bentuk yang sesuai, meskipun sudah hampir duapertiga abad merdeka. Di sana-sini masih banyak masalah yang kita temukan. Mulai dari sistemnya, kurikulumnya, sarana dan prasarananya, dan yang tidak kalah penting adalah tenaga pendidiknya.


       Namun demikian, sekadar mengeluh dan mengutuk kegelapan tidaklah akan merubah apapun.Kita yakin bahwa republik ini adalah republik yang (telah) besar dan akan semakin besar. Kita juga tidak boleh memungkiri bahwa sudah banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh anak negeri. Sepatutunya kita juga bisa melihat sisi positif dari negeri ini. Sejenak mari melihat kembali sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada saat para pendiri republik ini merancang dan memproklamasikan kemerdekaan,sebenarnya mereka berhadapan dengan situasi yang luar biasa sulit, kondisi ekonomi yang sangat berat, rakyat yang miskin, penduduk yang tidak terdidik,keuangan negara yang kosong, seluruh infrastruktur lemah dan habis perang, dan beberapa masalah lainnya yang tidak kalah berat. Tapi satu hal yang menarik, para pendiri republik tersebut bukanlah orang-orang yang suka mengeluh, mereka adalah pemimpin yang mengirimkan harapan, mereka tak kirimkan ratapan, meskipun mereka memiliki seluruh persyaratan untuk meratapi lingkungan, problem begitu banyak, tapi apa yang mereka lakukan? Mereka mengirimkan harapan. Pemimpin-pemimpin itu menggandakan pesan-pesan optimisme. Mereka optimis bahwa bangsa ini akan mampu menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera. Sekali lagi, mereka lebih memilih untuk optimis.


       Semangat optimis itulah yang harus kita miliki saat ini untuk membangun republik ini. Bahkan bukan hanya harus kita miliki secara pribadi, namun juga harus kita tularkan kepada seluruh masyarakat di sekitar kita. Misalnya saja semangat dalam memajukan pendidikan. Pendidikan di negeri ini tidak akan pernah maju hanya dengan cacian dan makian, tidak akan cerah hanya dengan sumpah serapah. Yang dibutuhkan adalah kontribusi dari semua pihak dalam upaya membantu menyelesaikan masalah pendidikan yang ada. Dengan turun tangan menjadi pelaku pendidikan, bukan pemerhati pendidikan. Dengan aksi nyata, bukan dengan seminar-seminar yang terkadang cuma bisa mendeteksi masalah, tapi tak ada langkah konkret dalam menyelesaikannya. 


       Kita harus optimis bahwa janji kemerdekaan tersebut suatu saat akan terbayar lunas. Namun kita juga harus sadari bahwa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa kita tidak bisa mewujudkannya seorang diri. Semua tidak akan pernah tercapai jika kita masih tercerai berai. Untuk bisa menjadikan masyarakat yang cerdas, yang terbebas dari segala bentuk kebodohan, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa itu hanya tanggung jawab guru atau sekolah. Memang, secara konstitusional mendidik adalah tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini sekolah. Namun secara moral, mendidik adalah tanggung jawab setiap orang yang terdidik. Atau jika mendidik itu tetap dikatakan sebagai tanggung jawab guru, maka kita semua adalah guru, tanpa terkecuali. Dengan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang sama dari kita, akan semakin mudah bagi kita membawa pendidikan di Indonesia menuju gerbang kemajuan.


       Perlu juga dipahami bahwa rasa optimis dalam menatap bangsa ini bukan berarti pro terhadap pemerintah. Seringkali ketika ada pihak yang memandang positif terhadap perkembangan negeri ini selalu dikatakan sebagai pihak yang pro pemerintah. Padahal optimis dan pro pemerintah adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang yang pro pemerintah belum tentu dia optimis, dan sebaliknya orang optimis belum tentu dia pro pemerintah. Sikap optimis inilah yang harus dimiliki oleh semua pihak, baik yang pro pemerintah maupun yang selalu kritis terhadap pemerintah. Tidak menjadi masalah jika ada pihak yang kritis, asalkan dia optimis. Yang menjadi masalah adalah ketika ada pihak yang kritis namun pesimis. 


       Melalui peringatan 17 Agustus yang telah kita lalui beberapa hari yang lalu, mari kita rayakan hari kemerdekaan kita. Namun demikian, jangan sampai kita melupakan cita-cita pendahulu republik ini.Kemajuan pendidikan suatu bangsa adalah hasil akumulasi perjuangan dari beberapa generasi. Jika generasi pendahulu telah memulainya, maka tugas kita adalah melanjutkannya. Jangan sampai estafet perjuangan itu terhenti di generasi kita, dikarenakan kita hanya menjadi generasi pengutuk kegelapan, bukan pencerah. Berhentilah mengutuk kegelapan, nyalakan lilin, lakukan sesuatu.



Selamat ulang tahun Indonesiaku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar