Selasa, 03 Februari 2015

Sanusi

Namanya Sanusi. Lelaki dengan perawakan sedang dan warna kulit yang agak gelap. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati orang tuanya. Ia juga tak punya saudara. Hidup sebatang kara.

Kondisi hidup yang sangat sulit itu berpengaruh besar pada hidupnya. Ia menjadi anak yang pendiam. Terlebih lagi ia juga tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia hidup dari hasil memperbantukan tenaganya kepada tetangga-tetangganya, seperti membersihkan sawah dan kebun, meskipun upahnya juga tak seberapa.

Untuk menemukan dimana ia berada sangatlah mudah. Hidup sebatang kara membuatnya sering pergi ke sebuah musholla kecil di tetangga desa.  Letaknya cukup jauh dari rumahnya. Dan sudah tentu ia menempuhnya dengan jalan kaki. Si Sanusi kecil memang terbilang rajin ke musholla. Ia juga pandai melafalkan kalimat Tuhan dalam AlQur'an. Sehingga ia cukup disukai oleh pemilik musholla itu.

Meskipun ia hidup dalam kondisi yang tidak ideal, namun ia tumbuh sebagai anak yang sholeh. Dan itu adalah modal utama. Itulah yang menyebabkan pemilik musholla itu begitu yakin menikahkan anak perempuannya, Siti Aminah, dengan Sanusi. Meskipun ia tidak punya apa-apa. 

Jika direnungkan, siapa yang mengatur itu semua? Siapa yang membimbing Sanusi pergi ke musholla itu? Kenapa harus musholla itu? Bukankah masih banyak musholla lainnya? Itulah barangkali yang disebut takdir Allah.

Di usianya yang ke-17 tahun, Sanusi pun menikah. Masih sangat muda. Selama proses pernikahan berlangsung, Sanusi hanya bisa menangis. Bahkan setelah resepsi selesaipun ia juga masih menangis. Saat ditanya istrinya kenapa ia menangis, Sanusi menjawab "Bagaimana saya tidak menangis, saya ini tidak punya apa-apa. Bahkan untuk membelikan istriku (maaf) baju dalam pun saya tidak punya uang".

Menyadari bahwa ia sudah punya tanggungan seorang istri, ia semakin bersemangat untuk bekerja. Ia tidak malu untuk kerja serabutan, yang penting halal. Hingga akhirnya, ada seorang penghulu di desanya yang menyarankannya untuk melamar menjadi guru bantu. Sanusi pun dipinjami sepatu untuk melamar pekerjaan itu.

Sanusi memang tidak pernah sekolah. Namun, sejak kecil ia sudah sering ke musholla. Dan selama itu pulalah Sanusi diajari ilmu agama oleh pemilik musholla yang akhirnya menjadi mertuanya itu. Bahkan ia sudah diajari kitab-kitab yang biasa dipelajari di pesantren. 

Sanusi pun diterima menjadi guru agama di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Dengan gaji 5 rupiah perbulan pada saat itu. Tapi itu masih sangat jauh dari kata cukup, apalagi ia sudah memiliki anak. Namun kesederhanaan hidupnya membuatnya bisa melewati hidup yang tak mudah itu. 

Setelah beberapa tahun mengabdi sebagai guru bantu, atas izin Allah, dan benar-benar atas kuasa Allah, ia terangkat menjadi pegawai negeri. Entah bagaiman caranya orang yang tidak pernah sekolah bisa menjadi pegawai negeri. Lagi-lagi ini adalah takdir Sang Maha Pengatur Rencana. 

Meski hidup dalam kekurangan, namun Sanusi mempunyai cita-cita yang cukup tinggi, yakni pergi ke Baitullah, Mekkah. Sehingga ia harus membagi penghasilannya antara untuk belanja keperluan rumah tangga, untuk menyekolahkan delapan anaknya, serta menabung untuk biaya naik haji. Entah berapa ia berhasil menyisihkan uang tiap bulannya dalam kondisi seperti itu. Tapi ia tetap tak patah arang. Menurutnya yang penting ia sudah benar-benar berusaha. Kelak Allah yang akan menjawab.

Dan Maha Besar Allah, Dia mengetahui mana hambaNya yang benar-benar berusaha dan berdoa. Di usianya yang ke-70, doa Sanusi untuk naik haji benar-benar terkabul. Ia naik haji dari hasil tabungannya selama berpuluh-puluh tahun. Sanusi tak pergi sendiri, ia mengajak istrinya juga. Entah itu uang darimana. Bahkan mereka sendiripun hampir tidak percaya kalau mereka bisa pergi ke Baitullah dari hasil tabungannya. Dan lagi-lagi ini adalah takdir Allah.

Sanusi seakan ingin menyampaikam pesan kepada manusia bahwa jangan pernah berhenti untuk meniatkan diri pergi ke Baitullah. Asalkan kita mau berikhtiar dan berdoa, maka Allah akan menjawabnya.

Tidak lama setelah Sanusi kembali dari tanah suci, ia dipanggil ke pangkuan ilahi. Ia meninggal setelah menjemput istrinya pulang dari pengajian Majelis Ta'lim, dengan mengendarai sepeda bututnya.

Meski ia tak punya saudara, tapi ribuan orang datang saat meninggalnya. Seluruh masyarakat di desa mengenalnya, bahkan sampai ke tetanggga desa. Ia dikenal sebagai orang yang sholeh, ramah, sederhana, dan suka membantu orang lain.

"Kami memang tak punya apa-apa, tapi kami punya Allah yang bisa mendengar doa-doa kami. Kuncinya, perbanyak ibadah, jaga wudhu, dan rajin silaturrahim dengan orang sholeh". Itu kalimat penutup cerita pagi tadi dari Siti Aminah, Istri Sanusi, nenekku.

*Cerita ini ditulis saat dalam perjalanan pulang dari rumah nenek di Blitar pada 3 Februari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar