Rabu, 06 November 2013

Mutiara Terpendam di Belantara Karet TBB

Tulisan ini bercerita tentang mutiara yang terpendam. Namun bukan tentang murid-murid di sekolah. Bukan tentang anak-anak di pelosok negeri dengan segala potensi dan bakat terpendamnya. Juga bukan tentang kondisi geografis di daerah pedalaman seperti yang biasa orang ceritakan. Dalam tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang sosok di balik tumbuhnya potensi dari murid-murid itu, yaitu guru.

Ketika mendengar kata guru di pedalaman, tidak sedikit dari kita yang mempunyai asumsi hitam bahwa mereka memiliki kualitas dan mental yang rendah. Dengan berbagai macam alasan, kita sering menempatkan mereka berada di bawah guru-guru yang ada di kota. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena memang banyak guru yang tinggal di pedalaman masih kurang percaya diri untuk menunjukkan potensinya. Meskipun pada hakikatnya ada potensi yang terpendam dalam dirinya.


Akhir Oktober kemarin, semua asumsi hitam itu terbantahkan. Sebanyak 16 guru SD di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubabar) telah berhasil membuktikan kemampuannya. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka akhirnya berani dan mampu menjadi pelatih dalam kegiatan lokakarya bagi guru-guru lain se-Kabupaten. Selama dua hari penuh mereka dengan ikhlas berbagi ilmu kepada sekitar 210 guru dan kepala sekolah perwakilan dari 167 SD di Tulang Bawang Barat.

Awalnya mereka ragu. Mereka tidak yakin dengan kemampuan yang ada pada dirinya, meskipun sebulan sebelumnya mereka baru saja mengikuti Program Guru Magang di beberapa sekolah di Kota Malang.

“Apakah mungkin kami bisa Pak?, Nanti kalau pesertanya lebih pintar dari kami bagaimana?”

Kalimat itu yang senantiasa mereka ucapkan. Mereka merasa belum layak untuk berbicara di depan banyak orang, terlebih lagi ada beberapa dari mereka yang masih tergolong guru junior. Namun karena suntikan motivasi dari berbagai pihak, akhirnya motivasi dari dalam diri mereka pun tumbuh. Dan hanya butuh waktu sehari untuk simulasi, akhirnya mereka benar-benar beraksi.

Menurut beberapa pihak, mungkin ini adalah hal yang biasa, tak layak dibanggakan. Namun bagi kami, Pengajar Muda TBB dan juga guru itu sendiri, ini adalah prestasi yang sangat luar biasa. Di tengah-tengah keterbatasan yang ada, fasilitas yang kurang mendukung, serta asumsi-asumsi negatif yang sering muncul,  mereka mampu menunjukkan diri bahwa mereka punya potensi. Mereka juga bisa seperti guru-guru lain di luar sana yang memiliki berbagai macam fasilitas. Semua guru punya potensi, hanya perlu digali untuk dapat menemukannya.

Sikap kemandirian inilah yang patut dibanggakan. Jika selama ini tiap kali mengadakan pelatihan selalu mengundang pelatih atau pembicara dari Jakarta atau kota-kota besar lainnya, kami mencoba merubahnya. Kami lebih memilih memberdayakan potensi lokal yang ada, dari kita dan untuk kita. Bagi 16 guru tersebut, ini menjadi sebuah pengalaman yang tak bisa dinilai dengan rupiah. Meskipun awalnya enggan, kini mereka menyadari bahwa tak perlu menunggu hebat untuk berani memulai, hanya dibutuhkan keberanian untuk memulai agar bisa menjadi hebat. Mereka juga menyadari bahwa tak perlu mengharapkan orang lain agar memerhatikan pendidikan di daerah mereka, namun mereka sendirilah yang harus bergerak. 

       “Terima kasih Pak, Bu. Dengan adanya kesempatan ini akhirnya kami berani bicara di depan banyak orang. Dan kapanpun kami akan selalu siap jika diminta untuk menjadi pelatih.”

Kalimat itulah yang selalu kami ingat. Dan itu sudah cukup menjadi alasan sederhana mengapa kami sangat bahagia. 

#BahagiaItuSederhana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar