Sabtu, 12 Oktober 2013

Ini Bakti Kami, Indonesia !

Untuk keempat kalinya dada ini kembali berdebar saat melantunkan lagu itu. Lagu yang mungkin sudah mulai dilupakan oleh sebagian besar masyarakat di negeri ini; Padamu Negeri. Sebenarnya aku sedikit malu untuk mengatakan itu. Bagaimana tidak, aku baru bisa meresapi makna dari lagu itu ketika usiaku mendekati seperempat abad.  Masih terekam jelas diingatanku saat pertama kali dada ini terenyuh tatkala menyanyikan lagu ciptaan Kusbini itu, yaitu saat pelatihan Calon Pengajar Muda Angkatan V. Ya, itu yang pertama. Yang kedua adalah saat lagu itu bergemuruh memenuhi area keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta, saat Pak Anies Baswedan melepas para Pengajar Muda angkatan V berangkat ke tanah pengabdian. Seakan tak menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di bandara itu, air mataku_juga teman-temanku_ mengalir deras tak tertahankan. Irama lagu yang diiringi isak tangis itupun memecah keheningan bandara menjelang subuh di kala itu. Dan yang ketiga adalah saat kami (Pengajar Muda V) berpisah dengan Pengajar Muda III di daerah penempatan. Air mata itu kembali mengalir. Bukan karena sedih, tapi bangga karena pernah dan (semoga) masih akan mengabdikan diri untuk negeri.

Entah apa sebabnya mulai saat itu hati ini selalu tersentuh tiap kali menyanyikan atau bahkan hanya mendengar lagu itu. Sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar. Dan ternyata hal itu masih berlanjut sampai saat ini. Pekan ke-dua September lalu, lagu itu kembali menggetarkan dadaku. Terlebih lagi saat itu aku_juga teman-teman PM V TBB yang lain_menyanyikannya bersama empat puluh lima guru pilihan di kabupaten Tulang Bawang Barat. Di dampingi pihak Dinas Pendidikan setempat, dengan penuh hikmat kami menyanyikan lagu itu sebagai tanda melepas guru pilihan tersebut untuk mengikuti Program Guru Magang ke Kota Malang. Rasa bangga tak terkira memenuhi dada ini saat melihat wajah para guru tersebut. Wajah para pahlawan yang benar-benar tanpa tanda jasa namun memiliki keinginan kuat untuk memajukan pendidikan di daerahnya.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya aku bisa terlibat dalam aktivitas seperti ini. Berhadapan dengan guru pilihan se-kabupaten, kepala sekolah, Dinas Pendidikan, dan beberapa stakeholder lainnya. Menganalisis bersama masalah pendidikan yang ada, merumuskan solusinya, dan beraksi nyata untuk mengatasi masalah tersebut. Kami tak hanya berkomentar atas banyaknya masalah pendidikan yang ada. kami juga tak mau sekadar mengeluh dan saling menyalahkan. Karena kami yakin, perubahan itu tidak akan pernah terwujud hanya dengan urun angan, sebesar apapun jumlahnya. Namun kami percaya bahwa perubahan akan senantiasa menghampiri saat kita bersedia turun tangan untuk mewujudkannya.

Lagu yang kami nyanyikan tersebut bukan sekadar lagu seremonial belaka. Kami berharap bahwa apa yang kami lakukan ini, meskipun itu kecil, merupakan salah satu bentuk bakti kami untuk negeri ini. Memang hasilnya tidak bisa instan dirasakan, karena mengurus pendidikan adalah pekerjaan jangka panjang yang hasilnya akan mampu dirasakan nanti bahkan kelak sampai anak cucu kita. Semoga ini tercatat sebagai pengabdian kami untuk negeri, meskipun kadang ada sebagian pihak yang kurang menghargai. Kami tak peduli. Kami tak seperti politikus kebanyakan yang mengharapkan pujian dan imbalan suara saat melakukan aktivitasnya. Kami hanyalah manusia dengan sedikit pengetahuan yang merasa punya tanggung jawab atas keterdidikan kami.

Dari ketulusan mereka itulah aku belajar banyak hal. Belajar untuk memikirkan masa depan bangsa ini jauh ke depan, belajar menumbuhkan kepedulian untuk memajukan tanah kelahiran, dan tentunya, belajar untuk senantiasa menjadi pembelajar. Mereka adalah guru terpilih, terbaik di antara yang baik, namun itu tak lantas menjadikan mereka orang yang mudah puas. Mereka meyakini bahwa guru juga harus senantiasa meningkatkan kemampuannya. Karena jika guru tak rajin berbenah, pendidikan juga tak akan menemui arah. Jika guru tak lagi mau belajar, jangan harap masalah pendidikan akan kelar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar