Minggu, 20 Oktober 2013

Haruskah Kita (T)urun (T)angan?


Seperti jamur di musim hujan, tumbuh subur di mana-mana. Sama halnya dengan kasus korupsi di negeri ini yang tak kunjung hilang. Belum sembuh luka dalam akibat kasus korupsi yang menjerat mantan Ketua MK Akil Mochtar, luka tersebut semakin tersayat dengan pemberitaan penangkapan mantan Menegpora Andi Malarangeng yang juga terjerat kasus korupsi. Ini hanya dua dari kesekian kasus korupsi yang terungkap. Mungkin kasus yang belum terungkap_dan yang sengaja tidak diungkap_jumlahnya jauh lebih banyak lagi, dan bisa jadi sampai menyentuh pejabat di lapisan paling bawah.


Banyaknya pejabat negara yang berperilaku amoral di negeri ini membuat sebagian masyarakat tak lagi percaya terhadap penyelenggara negara. Sebagian masyarakat tak lagi bersedia mempercayakan aspirasinya kepada mereka. Ya, mereka lebih memilih golput. Dan itu adalah hal yang wajar. Mungkin saja mereka telah bosan dengan segala kebohongan politik yang ada. Politik itu kotor, semua penuh dengan kepalsuan. Bahkan ada yang sampai mengatakan “Aku cinta Indonesia, tapi tidak pemerintahnya.” Well. Itu adalah hak kita. Setiap kita memiliki hak masing-masing untuk menentukan sikap, termasuk dalam hal politik. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah di mana peran kita dalam upaya membangun republik ini? Apakah dengan sikap golput kita tersebut semua permasalahan bangsa ini akan selesai? Apakah dengan sikap apatis kita terhadap pemerintahan akan mampu menjadikan bangsa ini semakin baik? Jawabannya adalah tidak, sama sekali tidak.

Sebagian dari kita ada yang memilih berusaha membangun negeri melalui jalur lain di luar politik. Misalnya dengan mendirikan yayasan, membentuk komunitas, klub, ataupun organisasi. Itu tidak salah, bahkan sangat baik. Namun yang perlu kita sadari (tolong sadar dong) bahwa negara ini adalah negara demokrasi, mempunyai undang-undang yang sah, memiliki hukum yang kuat, dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan yang telah tertata. Artinya, kita tidak bisa lepas dari hal tersebut. Semua yayasan, komunitas, organisasi, atau apalah namanya, akan senantiasa bersinggungan dengan pemerintah. Dan yang_menurut saya_sangat menyakitkan namun tidak disadari pelakunya, sikap golput sama sekali tidak akan memengaruhi sistem yang sudah ada. Pemilukada, pileg, pilpres, semua tetap berjalan. Golput menjadi sangat tak berarti. Justru semakin memudahkan jalan orang-orang tak bertanggung jawab untuk menguasai kursi.

Sebagai warga negara, tentunya kita memiliki kebebasan yang sangat luas dalam menentukan sikap. Memilih turun tangan, atau sekadar urun angan. Namun, hanya pilihan pertamalah yang memiliki peluang mampu merubah bangsa ini. Ada satu contoh kecil yang semoga dapat menjelaskan mengapa kita harus turun tangan. Dengan adanya otonomi daerah, bupati atau gubernur selaku kepala daerah mempunyai kewenangan untuk menentukan struktur pemerintahan yang dipimpinnya. Seluruh SKPD yang ada dapat dipilih oleh kepala daerah sesuai dengan keinginannya, baik keinginan sendiri ataupun titipan dari penumpang gelap. Bisa dibayangkan apa jadinya jika penetapan penyelenggara negara didasarkan pada asas kekeluargaan, kekerabatan, atau asas balas budi. Seyogyanya penetapan penyelenggara negara harus didasarkan pada kapabilitas seseorang. Begitu tegakah kita membiarkan Dinas Pendidikan diisi oleh para lulusan fakultas ilmu politik? Relakah kita melihat Departemen Agama dikelola oleh mereka yang bukan bidangnya? Apakah itu yang kita inginkan, membiarkan institusi pemerintahan dihuni oleh orang-orang yang bukan ahlinya? Lalu, di mana kepedulian kita? Sudah keraskah hati kita sehingga kita berlepas tangan dari semua itu?

Kesesuaian bidang dengan pekerjaan memang bukan satu-satunya penentu sebuah keberhasilan. Namun bukan berarti kepala daerah dapat menentukan penyelenggara negara seenaknya saja. Kalau demikian, apa gunanya ada penjurusan di perguruan tinggi? Bukankah akan lebih baik jika sebuah urusan itu diserahkan kepada ahlinya? Akan lebih sangat bijaksana apabila setiap institusi pemerintahan diisi oleh pakar di bidangnya. Dinas Pendidikan misalnya, akan lebih baik jika diisi oleh orang-orang pendidikan. Atau jika memang dari latar pendidikan lain, paling tidak ia telah lama bergelut di dunia pendidikan dan memiliki perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Karena bagaimanapun juga, mereka lebih memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan. Berbeda dengan para pejabat yang hanya keseringan loncat jabatan.

Ini hanyalah satu contoh kecil kesalahan yang telah mengakar di negeri ini. Namun bukan untuk diratapi. Olehnya, tiada pilihan lain selain turun tangan. Kita tak cukup hanya dengan urun angan, berharap negeri ini maju tapi tak mau bergerak. Apakah kita akan menunggu sampai negeri ini bersih baru kemudian mau turun tangan? Kalau iya, sampai kapan? Sampai kapan kita akan diam melihat penentu kebijakan dengan seenaknya menempatkan penyelenggara negara tidak sesuai dengan keahliannya? Sampai kapan kita yang di bawah terus berjuang untuk negeri sementara yang di atas tak tau diri? Sampai kapan kita mengubur rasa peduli, membiarkan tikus berdasi semakin memperkaya diri? Kawan, sampai kapanpun negeri ini tidak akan pernah berubah hanya dengan urun angan para pemimpi.

Kita tentunya berharap bengsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan semakin besar. Oleh karena itu, mulai detik ini mari perbaiki kembali cara kita berpikir. Bayangkan jika semua institusi pemerintahan diisi oleh orang-orang baik yang kapabel di bidangnya. Tentu bangsa ini akan semakin berkembang. Sehingga, bukan golput yang dapat menyelesaikan masalah di negeri ini, tapi bagaimana kita berusaha memperbanyak orang-orang baik untuk menduduki kursi pemerintahan. Bukan juga dengan apatis terhadap politik yang akan menuntaskan persoalan di negeri ini, tapi bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku politik yang baik. Istilah politik kotor hanyalah imbas dari ulah sebagian pelaku di dalamnya. 

Tentu masih ada orang baik di dunia politik, meskipun tak 100% bersih, karena tak ada orang yang bersih 100% di dunia ini, termasuk mereka yang memilih golput. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menata ulang politik agar tak semakin kotor. Maka kita perlu masuk di dalamnya. Kemungkinan terkena percikan kotoran tetap ada, karena kita sedang turun tangan, bukan lipat tangan. Atau jika memang sama sekali tidak ingin bergelut dengan politik, paling tidak kita mampu berdamai dengannya, kita dukung langkah orang-orang baik yang bersedia turun tangan memperbaiki politik di republik ini. Itulah salah satu bentuk kontribusi yang bisa kita lakukan.

1 komentar:

  1. betul sekali. Apakah kita fine2 sja hidup di negeri ini namun membiarkannya terkotori? Sungguh tdk bijak org yang berpik masa bodoh utk negaranya. Mari bersama bertindak yg positif walaupun itu masih utk kategori hal-hal ygkecil. Dari pada tidak sama sekali mending berbuat sekalisekali nanti juga bakalan terbiasa.
    *semoga nanti kita tidak memilih utk golput dan tdk salah memilih wakil. Aamiin

    BalasHapus