Rabu, 23 Januari 2019

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?





Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Sabtu, 24 November 2018

GURU 14 HARI



“Good morning students!” suara Bu Niar memecah keheningan kelas di pagi itu.

Seperti biasa, pagi itu Bu Niar menjadi lakon tunggal di sebuah petak kecil berdinding papan dan beratapkan seng. Orang menyebutnya sebagai sekolah. Meskipun kondisinya tak seperti sekolah pada umumnya. Hanya ada dua petak kecil di sekolah tersebut. Satu petak untuk kelas bawah, sepetak lagi untuk kelas atas. Mengajar kelas rangkap sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Selasa, 13 November 2018

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Sumber gambar: Google

Siapa yang tak miris hatinya saat melihat video viral tentang pembullyan murid terhadap gurunya di Kabupaten Kendal. Meskipun hanya candaan, kejadian itu tentu saja menjadi pukulan bagi kita, bukan hanya yang berstatus sebagai pendidik, tetapi semua yang dalam hatinya masih ada hari nurani.

Kamis, 23 Agustus 2018

Lepas Juang

Rasanya baru kemarin
Kita bersama menyusun bait-bait mimpi itu

Mungkin masih terasa dini
Untuk kita mengeja kisah setahun sepagi ini

Tapi sejenak perlu kita renungkan
Apa yang sudah kita jejakkan
Pada lembaran hidup yang baru saja kita lewati
Yang akan kita narasikan pada guru dan anak murid nanti

Mungkin kau masih ingat
Tentang harapan yang pernah kita teriakkan
Yang memenuhi langit-langit kelas persegi itu

Mungkin juga kau belum lupa
Pada ikrar yang tertancap di relung dada
Membakar dingin membelah sunyi
Syahdunya Gunung Gede di tepian pagi

Kuharap kau masih menggenggamnya
Mimpi-mimpi itu, juga semangat itu
Meski nanti raga tak lagi saling menyapa

Kau harus tahu
Betapapun kau merasa payah
Dengan segala beban yang mencengkeram pundakmu
Ingatlah
Bahwa kita sudah pernah melalui itu semua

Pada Agustus yang tak sempat berlalu
Kutitipkan rindu ini padamu

Terimakasih
Untuk dua bulan yang tak tergantikan

Jakarta, 24 Agustus 2018


*Puisi ini ditulis untuk melepas kepergian Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Angkatan 2 ke tanah pengabdian

Rabu, 02 Mei 2018

Pendidikan Berkualitas, untuk Siapa?




Suatu ketika seorang guru di pedalaman Kalimantan Barat bercerita kepada saya. Ia mengeluhkan betapa sulitnya bagi guru-guru di pedalaman untuk mengikuti pelatihan guna pengembangan diri. Mulai dari minimnya kesempatan, jauhnya jangkauan, hingga masalah pembiayaan.

Memang tak mudah tantangan yang dihadapi oleh guru di daerah pedalaman. Di satu sisi mereka dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas diri, di sisi lain sangat sedikit kesempatan pengembangan diri yang bisa diikuti.   

Jumat, 20 April 2018

Kartini dari Pedalaman Hutan Tanaman Industri



Menjadi abdi pendidikan memang memiliki kenikmatan tersendiri, bagi mereka yang mencintai pendidikan tulus dari dalam hati. Tak peduli meski tantangan selalu datang silih berganti.  

Adalah Siti Asiyam, perempuan paruh baya di pedalaman Kabupaten Tulang Bawang Barat, yang mengabdikan diri demi membersamai anak didiknya meraih mimpi. Bunda, begitulah anak-anak memanggilnya. Ia bukanlah pegawai negeri, yang tiap bulan bisa mengandalkan gaji. Ia hanya warga biasa, yang dipercaya masyarakat untuk mendidik anak-anaknya.

Rabu, 04 April 2018

Ibu Sukmawati

Ibu Sukmawati
Tiba-tiba beritanya booming di seantero negeri
Bukan karena karya atau prestasi
Juga bukan karena diambil dengan sudut pandang dan kamera yang pas lalu ditonton presiden RI
Tapi karena kalimat kontroversi yang ia sebut sebagai puisi

Ibu Sukmawati
Niat hati ingin mendapat tepuk tangan dan puja puji
Tapi yang ia dapat malah bully dan caci
Ada yang menyebutnya tua-tua keladi
Hingga menyamakan dirinya dengan Mak Lampir di Misteri Gunung Merapi